Hudzaifah.org - Hidup bahagia, punya istri, punya anak, punya kendaraan dan tentunya punya RUMAH adalah dambaan setiap manusia, setiap ikhwah!

langit-maghrib-siluet-rumah

Rumah adalah tempat berkumpulnya anggota keluarga. Tempat kita berteduh dari angin, hujan, panas, dingin dan gelapnya malam. Rumah awal kita mengatur hidup dan kehidupan. Tempat kita melahirkan anak-anak shalih dan shalihah, tempat melahirkan ide-ide brilian dalam menjalankan roda dakwah. Tak dapat kita pungkiri rumah adalah suatu keniscayaan. Bukan begitu?!

Tapi, ternyata tidak semua kita bisa sampai pada cita-cita tersebut, punya RUMAH. Banyak di antara kita yang masih menjadi kontraktor, karena hampir setiap tahun bahkan tiap bulan pindah-pindah kontrakan. Dari tempat satu ke tempat lainnya, dari RT satu ke RT sepuluh, dari RW dua ke RW enam, dari kelurahan Cipedak ke kelurahan Srengseng bahkan tak jarang dari kecamatan Pasar Minggu ke kecamatan Jagakarsa. Bahkan ada juga dari Jakarta Utara ke Jakarta selatan, tak jarang pula dari Depok ke Jakarta atau sebaliknya. Yang agak beruntung kita bisa tinggal di PMI alias Pondok Mertua Indah. Yang lebih beruntung lagi juga ada, bisa “ngenper” alias nebeng sama orang tua.

Ternyata di manapun kita “punya rumah” ada seni-seni yang dapat kita ambil hikmah dan pelajaran. Di situ ada peluang kita untuk berdakwah, ada banyak kesempatan yang bisa kita raih untuk kemaslahatan dakwah. Luar biasa bagi para kontraktor, bisa kenal dan bersosialisasi dengan banyak segmen masyarakat. Kita bisa banyak paham akan karakter, sifat, kebiasaan dan adat masyarakat setempat sehingga memudahkan kita untuk mengatur strategi dakwah. Anggap saja kita sedang hidup di zaman para Wali Songo, mereka suka berpindah-pindah untuk menyebarkan dakwah.. Begitu juga kita, pindah kontrakan untuk menyebarkan dakwah. Pindah kontrakan bukan karena bertengkar dengan tetangga apalagi “gak cocok” sama Ikhwah. Na’udzubilah!!

Ketika kita tinggal di PMI banyak pula yang dapat kita perbuat untuk dakwah. Di keluarga besar mertua kita, di tetangga mertua kita, di RT mertua kita sampai di relasi mertua kita. Mertua adalah aset yang sangat berharga, apalagi bila mertua kita adalah tokoh masyarakat tentunya banyak yang dapat kita lakukan untuk dakwah ini. Yang pasti kalau kita “SABAR”. Hidup nebeng dengan orang tuapun tak kalah nyeninya. Apalagi bila kita punya kelebihan ” keshalihan ” yah minimal bisa baca doa setelah shalat wajib. Sejak kecil kita tinggal sama orang tua, kenal dengan semua saudara dan tetangga bisa memudahkan kita untuk mengajak orang pada kebaikan. Sekali lagi marilah kita berbuat, di manapun kita tinggal dan apapun status rumah kita. Bahkan kalau perlu kita hibur sang istri belahan jiwa kita. Katakan padanya, walaupun di dunia ini kita tidak punya rumah semoga Allah SWT membangunkan kita rumah di surga. Karena janji Allah SWT adalah pasti bagi orang-orang yang menolong agama-Nya. Wallahu ‘alam bisshowab.

Sumber : Dakwatuna.org

Leave a Reply

Your email address will not be published.

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>