c1fdaa5af50601fd94e71f7d32dd39282

Assalamu ‘alaikum sahabat Hudzaifah, we’re back!
Apa kabar nih?
Kita maasih ngebahas tentang Fiqh Prioritas dari Dr. Yusuf Al-Qardhawi, kali ini pembahasannya yaitu Prioritas Amal yang Kontinyu atas Amal yang terputus-putus. Yuk, sama-sama kita simak!

Al-Qur’an menjelaskan, sebagaimana yang dijelaskan oleh sunnah Nabi  saw,  bahwa sesungguhnya perbuatan manusia di sisi Allah itu memiliki berbagai tingkatan.  Ada  perbuatan  yang  paling mulia  dan  paling  dicintai oleh Allah SWT daripada perbuatan yang lainnya. Allah SWT berfirman:

“Apakah (orang-orang) yang memberi minuman kepada orang-orang yang mengerjakan haji dan mengurus masjid al-Haram, kamu samakan dengan orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian serta berjihad di jalan Allah? Mereka tidak sama di sisi Allah, dan Allah tidak memberikan petunjuk kepada kaum yang zalim. Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajadnya di sisi Allah; dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan.” (at-Taubah: 19-20)

Dalam sebuah hadits shahih disebutkan, “Sesungguhnya iman  itu ada  enam  puluh  lebih cabang –atau tujuh puluh lebih– yang paling tinggi di antaranya ialah la ilaha illa Allah, dan yang paling  rendah  ialah  menyingkirkan  penghalang  yang  ada di jalan.”  Hal  ini   menunjukkan   bahwa   jenjang   iman   itu bermacam-macam nilai dan tingkatannya.

Penjenjangan   ini   tidak  dilakukan  secara  ngawur,  tetapi didasarkan atas nilai-nilai  dan  dasar-dasar  yang  dipatuhi. Inilah yang hendak kita bahas.

Di  antara  ukurannya  ialah  bahwa  jenis pekerjaan ini harus pekerjaan yang paling langgeng (kontinyu); di  mana  pelakunya terus-menerus  melakukannya  dengan  penuh  disiplin. Sehingga perbuatan seperti  ini  sama  sekali  berbeda  tingkat  dengan perbuatan  yang  dilakukan  sekali-sekali  dalam  suatu  waktu tertentu.

Sehubungan  dengan  hal  ini  dikatakan  dalam  sebuah  haditsshahih:

“Amalan yang paling dicintai Allah adalah amalan yang paling langgeng walaupun sedikit.”2

Bukhari dan  Muslim  meriwayatkan  dan  Masruq  berkata,  “Aku bertanya   kepada  Aisyah  r.a.,  Amalan  apakah  yang  paling dicintai  oleh  Nabi  saw?,  Aisyah  menjawab:  “Amalan   yang langgeng.”3

Diriwayatkan  dari  ‘Aisyah  r.a.  bahwa sesungguhnya Nabi saw masuk ke rumahnya, pada saat itu ‘Aisyah sedang bersama dengan seorang  perempuan.  Nabi saw bertanya, “Siapakah wanita ini?” Aisyah  menjawab,  “Fulanah  yang   sangat   terkenal   dengan shalatnya  (yakni  sesungguhnya  dia  banyak  sekali melakukan shalat).” Nabi saw bersabda, “Aduh, lakukanlah apa  yang  kamu mampu melakukannya. Demi Allah, Allah SWT tidak bosan sehingga kamu sendiri yang bosan.”

‘Aisyah berkata, “Amalan agama yang paling dicintai olehnya ialah yang senantiasa dilakukan oleh pelakunya.” 4

Perkataan “aduh” dalam hadits tersebut  menunjukkan  keberatan beliau atas beban berat dalam beribadah, dan membebani diri di luar batas kemampuannya. Yang  beliau  inginkan  ialah  amalan yang  sedikit tapi terus-menerus dilakukan. Melakukan ketaatan secara terus-menerus sehingga  banyak  berkah  yang  diperoleh akan berbeda dengan amalan yang banyak tetapi memberatkan. Dan boleh jadi, amalan yang  sedikit  tapi  langgeng  akan  tumbuh sehingga  mengalahkan  amalan yang banyak yang dilakukan dalam satu waktu. Sehingga  terdapat  satu  peribahasa  yang  sangat terkenal  di  kalangan  masyarakat, “Sesungguhnya sesuatu yang sedikit tapi terus  berlangsung  adalah  lebih  baik  daripada amalan yang banyak tetapi terputus.”

Itulah  yang  membuat Nabi saw memperingatkan orang-orang yang terlalu berlebihan dalam menjalankan agamanya dan sangat kaku; karena  sesungguhnya  Nabi  saw  khawatir bahwa orang itu akan bosan  dan  kekuatannya  menjadi  lemah,  sebab  pada  umumnya begitulah  kelemahan yang terdapat pada diri manusia. Dia akan putus di tengah jalan. Ia menjadi orang yang tidak  jalan  dan juga tidak berhenti.

Oleh karena itu, Rasulullah saw bersabda,

“Hendaklah kamu melakukan amalan yang mampu kamu lakukan, karena sesungguhnya Allah SWT tidak bosan sehingga kamu menjadi bosan sendiri.”5

Beliau saw juga bersabda,

“Ikutilah petunjuk yang sederhana (tengah-tengah) karena orang yang kaku dan keras menjalankan agama ini akan dikalahkan olehnya.”6

Sebab wurud hadits ini adalah seperti  apa  yang  diriwayatkan oleh  Buraidah yang berkata, “Pada suatu hari aku keluar untuk suatu keperluan, dan kebetulan  pada  saat  itu  aku  berjalan bersama-sama  dengan  Nabi  saw . Dia menggandeng tangan saya, kemudian kami bersama-sama pergi. Kemudian di depan  kami  ada seorang  lelaki  yang  memperpanjang  ruku’ dan sujudnya. Maka Nabi  saw  bersabda,  Apakah  kamu  melihat  bahwa  orang  itu melakukan riya’?, Abu berkata, ‘Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu.’ Kemudian beliau melepaskan  tanganku,  dan  membetulkan kedua  tangan  orang  itu  dan  mengangkatnya sambil bersabda, ‘Ikutilah petunjuk yang pertengahan…’7

Diriwayatkan  dari  Sahl  bin  Hunaif  bahwa  Rasulullah   saw bersabda,

“Janganlah kamu memperketat diri sendiri, karena orang-orang sebelum kamu binasa karena mereka memperketat dan memberatkan diri mereka sendiri. Dan kamu masih dapat menemukan sisa-sisa mereka dalam biara-biara mereka.” 8

Catatan kaki:

1 Hadits ini diriwayatkan oleh al-Jama’ah dari Abu Hurairah; al-Bukhari meriwayatkannya dengan lafal “enam puluh macam lebih”; Muslim meriwayatkannya dengan lafal “tujuh puluh macam lebih” dan juga dengan lafal “enam puluh macam lebih”; Tirmidzi meriwayatkannya dengan “tujuh puluh macam lebih” dan begitu pula dengan an-Nasa’i. semuanya terdapat dalam kitab al-Iman; sedangkan Abu Dawud meriwayatkannya dalam as-Sunnah; dan Ibn Majah dalam al-Muqaddimah.  ^
2 Muttafaq ‘Alaih, dari ‘Aisyah (Shahih al-Jami’ as-Shaghir, 163) ^
3 Muttafaq ‘Alaih, ibid., dalam al-Lu’lu’ wa al-Marjan (429) ^
4 Muttafaq ‘Alaih, ibid., (449) ^
5 Muttafaq ‘Alaih, yang juga diriwayatkan dari ‘Aisyah: Shahih al-Jami’ as-Shaghir (4085). ^
6 Diriwayatkan oleh Ahmad, Hakim, dan Baihaqi dari Buraidah, ibid., (4086). ^
7 Disebutkan oleh al-Haitsami dalam al-Majma’, 1: 62 kemudian dia berkata, “Diriwayatkan oleh Ahmad dan orang-orang yang tsiqah.” ^
8 al-Haitsami berkata, “Diriwayatkan oleh Thabrani dalam al-Awsath dan al-Kabir, di dalamnya ada Abdullah bin Shalih, juru tulis al-Laits, yang dianggap tsiqat oleh Jama’ah dan dilemahkan oleh yang lainnya. (Al-Majma’, 1:62)
^

Sumber: Fikih Prioritas – Yusuf Qardhawi