Vector_Comedy

Di zaman serba komersial ini,  tak luput lawakan dan candaan juga dijual sebagai komoditi di dunia Entertainment . Saat lawakan telah menjadi bisnis , maka segala hal dilakukan untuk menambah ‘bumbu’ lawakan itu , mulai dari membahas isu sensitif hingga melakukan hal-  hal yang tak wajar dalam lawakan .

Namun , layaknya pada sebuah makanan , ‘bumbu’ yang terlalu banyak  malah menggetirkan rasa makanan . itulah yang terjadi pada lawakan yang terlalu ‘dibumbui’. Sebenarnya , dalam Islam candaan atau lawakan boleh saja dilakukan , Nabi Muhammad SAW juga pernah bercanda dengan orang – orang disekitar beliau,  namun ada batasan dan rambu-rambu dalam lawakan yang memang telah diatur dalam Islam , antara lain :

  1. Tidak menghina atau menyakiti orang lain

Dalam melawak sering kita temukan candaan yang menyakiti bahkan menghina orang lain baik dari segi fisik , segi verbal dan hal-hal lainnya . Terkadang , kita yang menyaksikannya tertawa terbahak – bahak . Sementara ,  dalam surah Al-Hujurat : 11 , Allah berfirman ; “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mencela sebagian yang  lain, karena boleh jadi yang dicela itu lebih baik dari yang mencela” (QS. Al-Hujurat:11).”

  1. Tidak Berdusta meski hanya sekedar candaan

“Celakalah bagi orang yang berbicara lalu berdusta supaya dengannya orang banyak jadi tertawa. Celakalah baginya dan celakalah”. (HR. Ahmad). Hadist yang diriwayatkan Imam Ahmad cukup menggambarkan larangan untuk tidak berdusta meskipun bercanda . Rasulullah SAW tidak pernah berdusta untuk bercanda hal ini dapat dilihat dari Hadits yang diriwayatkan oleh Imam at-Tirmizi dalam kitab Sunannya, no. 1913, dan dalam kitab asy-Syamâ’il al-Muhammadiyah, no. 238. Menurut beliau hadits ini derajatnya hasan shahih, dari Sahabat Abu Hurairah Radhiyallahuanhu , dia berkata:

Para Sahabat berkata, “Wahai Rasûlullâh! Sesungguhnya engkau mencadai kami.” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Betul, akan tetapi saya tidak mengucapkan sesuatu kecuali yang benar.

  1. Tidak Berlebihan dan tidak dilakukan rutin

Ar-Rhâgib al-Asfahani rahimahullah berkata, “Apabila canda tidak berlebihan, maka itu terpuji.” Canda yang berlebihan akan menyebabkan banyak tawa, terkadang dendam, bisa menjatuhkan wibawa, melalaikan orang dari zikir kepada Allâh dan  melalaikan hal-hal penting dalam agama. Sedangkan canda yang rutin akan menyibukkan diri dengan permainan dan sesuatu yang sia-sia. Al-Murthada az-Zubaidi rahimahullah mengatakan, “Para imam mengatakan bahwa canda yang berlebihan mencoreng kewibawaan, dan menjauhkan diri dari canda sama sekali, melanggar sunnah dan sirah nabawiyah yang diperintahkan untuk diteladani. Sebaik-baik perkara adalah yang tengah-tengah.

  1. Tidak meniru jenis kelamin lain

Seringkali untuk membuat orang tertawa, seorang laki-laki bergaya seperti  wanita mulai dari pakaian, cara berjalan, atau cara bicaranya. Tampaknya, aturan Islam yang ini sering dilanggar oleh para komedian pria dengan meniru perempuan atau memerankan banci atau bencong .

Dari Ibnu Abbas ra. Ia berkata “Rasulullah SAW melaknat laki-laki yang menyerupai perempuan dan melaknat perempuan yang menyerupai laki-laki”. (HR. Tirmidzi, Abu Dawud, Ahmad, Ad-Darimi).

 

Setelah kita mengetahui rambu-rambu nya , maka timbul pertanyaan :Apakah dosa kalau kita melucu ? atau apakah dosa menonton komedi atau hal yang lucu ?

Tidaklah dosa untuk melucu , apalagi kelakar yang dikeluarkan cuma sekedar pemanis saja , bukanlah hal yang terlarang saat kita melucu untuk menghangatkan suasana

Lalu , untuk menonton komedi atau hal yang lucu sebenarnya boleh-boleh saja , asal konteks dalam candaan yang digunakan tidak menyimpang dari ajaran Islam tidak menghina Islam dan lain sebagainya . Tidak pula menggunakan kata-kata kotor . Hal demikianlah yang dilarang dalam islam.Namun , lebih baik bagi kita untuk selalu bersikap bijak dalam menggunakan waktu kita agar selalu bernilai ibadah .

Sebenarnya Islam bukanlah agama yang kaku , bukan juga agama yang  lucu . Islam telah mengatur interaksi sosial antara pengikutnya agar tercipta kondisi damai dan rahmatan lil ‘alamin

Akhir kata . Wallahu a’lam bish-showabi.

 

 

 

Sumber Terkait :

https://almanhaj.or.id/3107-canda-di-panggung-hiburan.html

http://www.nu.or.id/post/read/65762/hukum-pelawak-atau-komedian-dalam-islam

http://www.risalahislam.com/2018/01/hukum-stand-up-comedy-melawak-menurut-islam.html