hard time

Roda kehidupan akan terus berputar, dan siapapun tidak bisa mengelak dari perputaran roda tersebut. Lahir sebagai bayi, memasuki usia kanak-kanak, remaja/baligh, menjadi dewasa, dan akhirnya sampai pada siklus menjadi lansia, manusia lanjut usia. Meski tidak ada satu orangpun yang bisa menjamin, apakah dirinya melalui seluruh fase tersebut. Karena boleh jadi Allah memanggilnya dalam usia muda.

Seperti sederet rumpun pohon pisang, masing-masing generasi akan datang silih berganti, setelah memberikan buahnya, pokok pohon pisang itu akan tumbang ditebas masa, dan digantikan oleh tunas-tunas yang lain. Tunas itu hadir menggantikan induknya, yang tak pernah lagi muncul, tapi dia berbahagia karena telah mempersembahkan karya, setandan buah pisang yang ranum. Dia tak akan meninggalkan kebun, menjadi bangkai batang, kecuali setelah memberikan hasil. Kita akan banyak membuang waktu tapi tidak menghasilkan apa-apa. Cara kita memilih peran idu adalah dengan memahami yang baik kebutuhan lingkungan, zaman, tempat kita, dan melihat kemampuan yang ada dalam diri kita yang diberikan Allah yang bisa kita berikan bagi manusia.

“Wajibul Waqt” atau kewajiban kita terhadap zaman atau tuntutan zaman. Inilah peran yang diharapkan oleh zaman ini. Sedangkan yang kedua adalah membaca potensi diri kita yang kita bisa, “ Setiap orang akan melakukan peran-peran yang untuk itu mereka diciptakan”. Point ke dua ini membuat kita membaca arah zamannya sejarah. Jika dapat membaca sejarah maka kita dapat membaca masalah manusia dan menawarkan solusi untuk itu.

Hard time create strong leader. Strong leader create good time. Good time create weak leader, weak leader create hard time”

Salah satu tipe dari orang yang lahir di hard time  adalah kemampuan mereka mengubah tantangan menjadi peluang, kekuatan menjadi keberanian, kelemahan menjadi kekuatan. Saat ini kita perlu mendfinisikan peran sejarah yang kita lakukan dengan melihat: sejarah dan potensi.

Setiap generasi memiliki cara berpikr sendiri, cita rasa, dan Bahasa sendiri. Lingkungan kita saat ini penuh dengan tangan berat yang tidak bisa dihadapi dengan cara berpikir biasa. Kita butuh banyak terobosan untuk itu. Dari berbagai buku tentang inovasi ternyata bukan oleh kecerdasan tapi keberanian dan rasa penasaran. Hanya orang orang-orang penasaran yang bisa berinovasi. Inovasi menjadikan diri kita sendiri dan hanya orang-orang berani yang mau berdiri sendiri. Innovator menjadikan kita standing alone. Butuh keberanian, bukan sekedar kecerdasan. Paling tidak perlu keberanian menghadapi kesepian.

Referensi:

https://www.dakwatuna.com/2014/10/14/58331/mempersiapkan-sebuah-generasi/#axzz57WpEj2fI

http://www.portal-islam.id/2017/01/anis-matta-memilih-takdir-kepemimpinan.html