dna

GMO adalah teknologi pengubahan susunan genetik dari organisme yang dilakukan dengan penggabungan gen dari organisme yang berbeda yang dikenal sebagai teknologi DNA rekombinan, dan organisme yang dihasilkan disebut dengan “rekayasa genetik” atau “transgenik”. Secara sederhana semua organisme merupakan GMO karena dalam proses reproduksinya terjadi pencampuran bahan genetik dari kedua inangnya. Tidak hanya itu, organisme yang bereproduksi dengan membelah diri juga dianggap mengalami modifikasi terutama pada saat terjadinya proses mutase dan transfer gen.

Teknologi ini telah digunakan untuk beberapa produk makanan seperti pada jagung, kedelai, papaya, beras, tomat, produk susu, kentang, kacang polong, dan lain-lain.
Dalam sebuah penelitian, jagung telah dimodifikasi untuk dapat membuat insektisida sendiri dan US Food and Drug Administration (FDA) telah menyatakan bahwa jagung modifikasi genetik ini telah diperkenalkan sebagai konsumsi manusia. Kedelai juga telah dimodifikasi secara genetik agar dapat melawan herbisida (penyiang gulma). Menariknya, telah ditemukan tomat dengan rekayasa genetik agar dapat mencegah buah ini dari mudahnya terjadi pembusukan. Rekayasa genetik juga telah dilakukan pada makanan pokok dari Asia Tenggara yaitu beras. Kini tersedia beras dengan kandungan jumlah vitamin A yang tinggi.

Penggunaan dari GMO tentu memiliki kelebihannya tersendiri, antara lain seperti hasil panen tinggi, perbaikan nutrisi makanan, perbaikan kesehatan manusia, serta mengurangi penggunaan bahan kimia. Dampak positif ini berlaku jika dibandingkan dengan produk-produk sesamanya yang alamiah. GMO tidak hanya digunakan dalam bidang pertanian dan pangan saja, melainkan pula pada bidang farmasi dan kedokteran, hingga perindustrian. Untuk itu, GMO dapat menjadi suatu teknologi transgenik yang bisa dimanfaatkan untuk kesejahteraan publik.

Terlepas dari kelebihan yang didapatkan dari penggunaan rekayasa genetika ini, GMO merupakan suatu teknologi yang membutuhkan biaya produksi yang lebih tinggi. Selain itu, dapat menyebabkan hilangnya varietas lokal hingga memicu terjadinya pertanian monokultur yang tidak berkelanjutan.
Sedangkan dalam bidang kesehatan sendiri, pada penelitian yang dilakukan di Amerika Serikat, hormon rekombinan yang disuntikkan ke sapi perah dapat meningkatkan resiko kanker pada manusia apabila hormon tersebut ada dalam tubuh manusia. GMO juga dapat menyebabkan terjadinya alergi terhadap makanan, dan kekebalan bibit penyakit terhadap antibiotik.