1520499173777

*FE-MINUS*
Oleh: Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi

Istilah femina, feminisme, feminist, berasal dari bahasa Latin fei-minus. Fei artinya iman, minus artinya kurang.

Jadi feminus artinya kurang iman. Wanita di Barat, sejarahnya, memang diperlakukan seperti manusia kurang iman. Wajah dunia Barat pun dianggap terlalu macho. Tapi lawan kata feminis, yakni masculine tidak lantas berarti penuh iman. Masculinus atau masculinity sering diartikan sebagai strength of sexuality. Maka dari itu dalam agama, wanita Barat itu korban inquisisi dan di masyakarat jadi korban perkosaan laki-laki. Tak pelak lagi agama dan laki-laki menjadi musuh wanita Barat.

Itulah worldview Barat asal feminisme lahir. Dan memang worldview, menurut  Al-Attas, Alparslan, Thomas Wall, Ninian Smart dll., adalah sumber aktivitas intelektual dan sosial. Buktinya worldview Barat liberal menghasilkan feminis liberal, Barat Marxis membuahkan feminis Marxis, Barat posmodern melahirkan feminisme posmo, dan seterusnya.

Seperti liberalisme, tuntutan feminis liberal adalah hak ekonomi dan kemudian hak politik. Dalam bukunya A Vindication of the Rights of Women, Mary Wollstonecraft menyimpulkan di abad ke 18, wanita mulai kerja luar rumah karena didorong oleh kapitalisme industri. Awalnya untuk memenuhi kebutuhan jasmani (perut), tapi berkembang menjadi ambisi sosial. Taylor dalam Enfranchisement of Women(1851) malah memprovokasi agar perempuan memilih jadi ibu atau wanita karier.

Tapi berkarier bukan tanpa masalah. Para feminis itu ternyata berkarier di luar rumah, tapi di rumah ia mempekerjakan pembantu wanita. Taylor sendiri begitu. Bagi feminis liberal, berkarier apapun wanita harus dibela. Bahkan, menurut Rosemarie Putnam Tong dalam Feminist Thought-nya feminis liberal, terang-terangan membela “karier” wanita pelacur dan ibu yang mengkomersialkan rahimnya.

“Semua berhak melakukan semua dan harus dibela,” begitu kira-kira doktrin. Membela wanita berarti membela wanita yang melecehkan dirinya sekalipun. Memberdayakan wanita berarti membenci laki-laki. Aroma adagium barbar masih kental, “membela diri artinya menyakiti orang lain”. Biar wirang asal menang. Begitulah, gerakan ini memang tanpa iman.

Karena kapitalisme dilawan sosialisme, maka feminis liberal dilawan juga oleh feminis Marxis. Idenya sudah tentu menolak kapitalisme. Sebab struktur politik, sosial, dan ekonomi kapitalis liberal, telah meletakkan wanita dalam kelas sosial yang lain. Kapitalis-liberal juga menciptakan sistim patriakis. Karena itu gagasan Feminis Marxis adalah menghapus kelas sosial ini.

Namun, nampaknya feminisme liberal atau Marxis masih dianggap kurang nendang. Mereka perlu lebih radikal lagi. Bahasanya bukan lagi reformasi, tapi revolusi. Fokusnya tidak lagi menuntut hak sipil, tapi memberontak sistim seks/gender yang opressif. Pembagian hak dan tanggung jawab seksual serta reproduksi wanita dan laki-laki, dianggap tidak adil. Bible pun tak luput dari kritikan. Kristen itu menindas perempuan, kata Stanton dalam The Women’s Bible.

Selain itu perempuan sering diposisikan sebagai alat pemuas lelaki. Inilah sebabnya feminis radikal lalu marah. “Tanpa lelaki wanita dapat hidup dan memenuhi kebutuhan seksnya,” begitulah kemarahan mereka. Lesbianisme pun dianggap keniscayaan. Padahal dalam The Vatican Declaration on Sexual Ethics tahun 1975 diputuskan bahwa perilaku lesbian dan homoseks “are intrinsically disordered and can in no case be approved of.” Paus Benediktus XVI pada malam Tahun Baru 2006, mengutuk hubungan seks sejenis itu. Tapi apa arti agama jika iman tidak di dada. Begitulah, gerakan ini memang tanpa iman.

Tapi Gayle Rubin, juru bicara feminis radikal libertarian, malah ngompori baiknya wanita jangan hanya puas menjadi lesbi, tapi juga memprotes segala aturan tentang hubungan seks. Institusi perkawinan pun jadi sasaran. Tapi beda dari libertarian, feminis kultural justru memprotes pornografi, prostitusi, dan heteroseksual. Tapi tidak berarti mereka setuju dengan UU pornografi dan “perda bernuansa syariah”. Sebab kedua aliran ini sepakat untuk menghapus institusi keluarga.

Feminis radikal sedikit banyak dapat angin dari gerakan feminis psikoanalisis dan gender. Pendekatannya bukan sosial, politik atau seksual, tapi psikologis biologis. Bahasanya lebih radikal dari feminis radikal. Gerakannya menggugat konstruks gender secara sosial dan biologis. Karena laki-laki dominan bukan karena faktor biologis, tapi sebab konstruk sosial. Maka konstruk sosial ini harus diubah. Kalau perlu laki-laki bisa hamil dan menyusui, dan wanita bisa menjadi pemimpin laki-laki.

Feminisme adalah gerakan nafsu amarah. Pemicunya adalah penindasan dan ketidakadilan. Obyeknya adalah laki-laki, konstruk sosial, politik dan ekonomi. Ketika diimpor ke negeri ini, ia berwajah gerakan pemberdayaan wanita. Bagus. Tapi nilai, prinsip, ide dan konsep gerakannya masih orisinal Barat. Buktinya nafsu amarah lesbianisme ikut diimpor dan dijual bagai keniscayaan, dibela dengan penuh kepercayaan, dan dijustifikasi dengan ayat-ayat keagamaan.

Bangunan konseptualnya berwajah liberal, radikal, Marxis dan terkadang posmo. Begitulah,  nafsu tidak memiliki batas dan marah tidak mengenal moralitas. Dan memang gerakan feminisme adalah feminus, alias kurang iman.