1525173888545

Ketika Islam Memandang Buruh

(Sebuah Hasil Pemikiran Sederhana)

 

Paradigma Definitif Buruh

Bulan Mei selalu akrab dengan julukan ‘mayday’ yang awalnya ditafsirkan sebagai tanda darurat pesawat saat mengalami emergency namun berubah maknanya menjadi suatu julukan untuk memperingati Hari Buruh pada 1 Mei . Untuk itu perlu kiranya kita untuk melihat bagaimana Islam memandang Buruh.

Apa arti buruh sebenarnya ?

Secara definitif buruh dapat diartikan sebagai “The social group consisting of people who are employed for wages, especially in manual or industrial work.”

Yang dapat diterjemahkan secara lepas sebagai “grup sosial yang berisi orang – orang yang bekerja untuk mendapatkan upah , terutama bekerja di industri rumahan atau pabrikan .”

Secara lebih luas dari pengertian buruh tersebut adalah mereka yang bekerja untuk mendapatkan upah , gaji atau bentuk apapun dari para pengusaha atau majikannya .

Makna definitif dari buruh tak jauh beda dengan karyawan , namun budaya kita lebih mengenal buruh sebagai tenaga kasar yang menggunakan tenaga ototnya sedangkan karyawan adalah mereka yang menggunakan otaknya dalam bekerja .

Eksistensi Buruh

Paradigma buruh yang dipandang sebagai tenaga kerja tak terdidik dan tak terlatih tersebut membuat posisi mereka mudah digantikan layaknya pepatah Yunani kuno “Saat kau tertidur , sejuta orang menggantikanmu”. Peran buruh tak ayal hanyalah sebagai alat yang keberadaanya bagai bidak – bidak catur.

Eksistensi Buruh makin terpuruk ketika mereka menghadapi perubahan zaman, mereka tidak hanya bersaing dengan sesama mereka, namun mereka juga harus bersaing dengan mesin dan teknologi yang lebih akurat melakukan pekerjaan mereka .

Dalam keadaan serba sulit mereka mau tak mau dihadapkan dalam pilihan untuk dikurangi haknya ataupun dikurangi upahnya . Keadaan mereka layaknya pepatah Yunani kuno diatas .

Opsi Terbaik

Hal yang dapat mereka lakukan adalah menambah atau meningkatkan keterampilan mereka sebagai seorang pekerja yang dapat menjawab tantangan pasar. Mungkin , hal itulah opsi terbaik bagi mereka. Padahal peran buruh tak lepas dari suatu struktur yang turut membangun perekonomian suatu bangsa , baik mereka dilihat sebagai ‘ujung-ujung tombak’ produksi maupun sebagai ‘suatu perjalanan historis’ manusia sebagai makhluk pekerja. Eksistensi mereka tidaklah tergerus secara terus-menerus hingga hilang ditelan zaman, namun eksistensinya butuh diperbarui sebagai suatu tata kaidah sosial dan ekonomi dari kelas pekerja .

Hak dan kewajiban

Sudah disinggung diatas bahwa pada dasarnya buruh adalah orang yang diberikan upah oleh pemilik / pemberi kerja. Ada hubungan timbal-balik disana, ada kausalitas juga yang membentuk hubungan antara si pemberi kerja dan si penerima upah , Namun titik beratnya adalah apa Hak dan Kewajibannya ? apakah hanya sekedar profesionalitas tanpa memperhatikan aspek – aspek kemanusiaan didalamnya ?

Jawabannya cukuplah kita lihat pada hadits- hadits Nabi Muhammad Shallallahu’alaihi wa sallam yang dengan itu kita dengan lengkap menggambarkan kausalitas dan aspek kemanusiaan didalamnya

Pertama

Dalam hadis Abu Dzar radhiallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

وَلاَ تُكَلِّفُوهُمْ مَا يَغْلِبُهُمْ، فَإِنْ كَلَّفْتُمُوهُمْ فَأَعِينُوهُمْ

“Janganlah kalian membebani mereka (budak), dan jika kalian memberikan tugas kepada mereka, bantulah mereka.” (HR. Bukhari no. 30)

Ada pembelajaran dari aspek kemanusiaan yang pertama yaitu, sebagaimana pun seorang buruh, ia bukanlah robot, maka dianjurkan untuk membantunya . Jika dipandang lebih detail, unsur kemanusiaan inilah yang seharusnya ditanam sebagai suatu sarana agar tercipta harmoni pekerja dan pemberi kerja yang tetap menjunjung profesionalitas namun tetap memiliki aspek kemanusiaan yang memperhatikan Hak dan Kewajiban satu sama lain.

Kedua

أَعْطُوا الأَجِيرَ أَجْرَهُ قَبْلَ أَنْ يَجِفَّ عَرَقُهُ

“Berikanlah upah pegawai (buruh), sebelum kering keringatnya.” (HR. Ibn Majah dan dishahihkan al-Albani).

Perihal upah yang selayaknya diberikan memang menjadi suatu titik berat dari aspek profesionalitas dengan aspek kemanusiaanya tetap terpenuhi . Sering kita temui pada media massa dimana majikan yang melakukan ke-dzalim-an pada para pembantunya dengan tidak memberikannya upah yang sudah disepakati, bahkan tak jarang ditambah dengan kekerasan- kekerasan baik secara fisik dan verbal yang jauh dari kedua aspek tersebut .

Ketiga

مَا اسْتَكْبَرَ مَنْ أَكَلَ مَعَهُ خَادِمُهُ، وَرَكِبَ الْحِمَارَ بِالأَسْوَاقِ، وَاعْتَقَلَ الشَّاةَ فَحَلَبَهَا

“Bukan orang yang sombong, majikan yang makan bersama budaknya, mau mengendarai himar (kendaraan kelas bawah) di pasar, mau mengikat kambing dan memerah susunya.” (HR. Bukhari dalam Adabul Mufrad 568, Baihaqi dalam Syuabul Iman 7839 dan dihasankan al-Albani).

Pembelajaran yang dapat diambil dari hadits ini adalah betapa manusia itu sejatinya sama kedudukannya meski didalam stratifikasi sosial ada yang diatas ada yang dibawah, namun sebagai suatu aspek kemanusiaan kita perlu menganggap bahwa kedekatan secara personal tidak menurunkan kedekatan secara profesional, meski ada batasnya namun bukan menjadi penghalang untuk saling mengasihi.

Sebuah Tinjauan

Menjadi penting melihat lebih buruh sebagai manusia pekerja dalam lingkup ekonomi dan sosial. Buruh yang dalam perjalanan historinya penuh dengan aksi perjuangan memperjuangkan hak-haknya, menentang ketidakadilan dan lain-lainnya pada hakikatnya ialah para pencari nafkah. Baik terkadang hal itu dikooptasi sebagai suatu bentuk perjuangan dalam berbagai ideologi dan pergerakan, namun kita tak dapat memisahkan unsur ketergantungan ataupun simbiosis ekonomi dalam lingkup kapital . Selalu ada perdebatan antara kelas pekerja dengan kelas pemilik modal dikarenakan prinsip keadilan yang dipakai rancu, padahal dengan memperhatikan secara saksama hak dan kewajiban dan bagaimana sebenarnya memasukkan aspek – aspek kemanusiaan didalamnya, perdebatan tersebut dapat berakhir dengan balance. Ego dan nafsu lah yang sering dipergunakan sebagai suatu landasan berpikir yang malahan menjerumuskan dan menambah daftar panjang pertentangan antara perjuangan buruh dengan keinginan besar pemilik modal dalam roda perekonomian yang makin lincah menggerus kelas-kelas yang tak dapat sintas (survive).

 

“Jadikanlah momentum Hari Buruh sebagai momentum membangun ekonomi secara bersama-sama berlandaskan keadilan dalam ekonomi dan sosial, bukan pertentangan panjang yang menambah permasalahan dalam peradaban manusia sebagai sosio-kultural”

https://en.oxforddictionaries.com/definition/working_class