[Kita diciptakan berbangsa-bangsa ]

 

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah menciptakan langit dan bumi dan berlain-lainan bahasamu dan warna kulitmu. Sesungguhnya pada yang demikan itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang mengetahui.” (Qs: Ar-Rum [30] :22)

 

Saya yakin agama Islam menjelaskan tata cara kita dalam bernegara hal ini dapat dilihat dari ayat diatas dan negara pasti menjamin hak-hak beragama hal tersebut tercantum pada UUD 1945, lalu mengapa pada akhir-akhir ini hal demikian seakan dibentur-benturkan ? seakan timbul segregasi dalam tubuh masyarakat untuk beragama atau bernegara ?

Permasalahan ini cukup membuat kita sebagai orang awam gerah dan tak kuasa saat kita dijejali oleh banjirnya informasi yang seakan makin menguatkan adanya segregasi. Segregasi tersebut semakin lama bukan lagi perkara agama atau negara malah meluas menjadi segregasi-segregasi yang lain, mulai dari gender, kelas sosial, ras dan rasa spiritualis dan nasionalis. Segregasi-segregasi tersebut melahirkan julukan kelompok-kelompok seperti intoleran,anti-kebhinekaan , dan julukan-julukan lain yang intinya merendahkan satu dan yang lain.

Kita , yang diharapkan sebagai masyarakat modern , juga tak berkutik untuk menjadi cerdas atau setidaknya lebih aware saat derasnya informasi ditambah bumbu opini sana-sini yang lambat laun mengantarkan kita berperan sebagai pros atau cons.

Kita, yang dikenal sebagai masyarakat yang ramah, hilang semua keramahan tersebut saat menjelma menjadi masyarakat dunia maya (netizen), dengan mudahnya kita melakukan justifikasi, terkesan paling ahli pada suatu masalah dan terkadang menambah kebohongan sana-sini yang pada akhirnya tak menyudahi segregasi yang ada.

Kita sebagai makhluk beragama dan bernegara terkesan kehilangan norma dan nilai nya, terjun dalam derasnya arus yang membedakan antara si “A” sebagai “aku” dan “B” sebagai “kau”. Kita sebagai mahluk beragama patut malu ketika ayat-ayat suci dengan mudahnya dikomersialkan dan dijadikan “topeng” dalam menjatuhkan sesama. Disisi lain, kita patut marah ketika dasar-dasar negara dihina dan dijadikan “Merchandise inventory” dalam merebut kekuasaan secara zalim.

Padahal, negara kita didirikan atas dasar persatuan dan agama mengajarkan memberi rahmat kepada sesama. Jangan sampai karena kepentingan periodik, hilanglah hal-hal fundamental dalam diri kita , sehingga, tak nikmat lagi rasanya untuk menjadi masyarakat yang beragama dan bernegara.

Jika kita selama ini sudah salah menempatkan diri , maka….

Tempatkanlah diri kita bukan sebagai umat beragama yang kehilangan jiwa bernegara atau bernegara yang kehilangan nilai-nilai agama ,tapi jadikanlah diri kita sebagai manusia yang beragama dan bernegara tanpa kehilangan nilai-nilai agama dan jiwa besar dalam bernegara.

Penutup

Pada bulan dimana Allah SWT memberikan rahmat pada Negara ini untuk merdeka, perlu kita sedikit untuk merenung atau setidaknya menggunakan perasaan kita untuk menahan diri dari nafsu yang membuat kita ingin memaki, membenci atau menzolimi sesama kita. Jadikanlah Hari Kemerdekaan Indonesia sebagai hari kemerdekaan kita dari segala bentuk segregasi dan menjadi satu lagi.

 

“Doakanlah pemimpin-pemimpin kita untuk bersikap adil”

“Doakanlah ulama-ulama kita untuk selalu diberikan limpahan rahmat”

“Doakanlah sesama sebagaimana kita mendoakan diri kita sendiri”

 

Dirgahayu Indonesiaku !!

 

Ditulis Oleh :

Bidang Kajian dan Strategis UKM Islam Hudzaifah Trisakti