september

#BESMARTCHALLENGE

Fenomena #Challenge dikalangan millenials memang bukan suatu hal yang baru lagi, hal ini sudah menjadi trend yang banyak diminati oleh para millenials dengan berbagai alasan, mulai dari ingin menunjukkan eksistensi di dunia maya atau yang sekedar ikut-ikutan.
Fenomena #Challenge hanyalah segelintir dari banyaknya budaya pop (pop culture) yang berasal dari dunia maya yang berdampak pada kehidupan nyata. Fenomena-fenomena sejenis ini tumbuh subur karena adanya anggapan ‘nggak keren kalo gak ikutan’ di kalangan millenials.

Mengejar Eksis
Perkara menunjukkan eksistensi memang menjadi hal yang dikejar oleh banyak orang di dunia maya. Kita menemukan banyak sekali millenials yang melakukan berbagai hal hanya untuk mengejar kata ‘eksis’. Bahkan, tak jarang hal yang dilakukan tersebut melanggar nilai dan norma di masyarakat.
Menjadi eksis telah menjadi suatu impian yang harus diraih oleh kalangan millenials karena dengan menjadi eksis ada suatu pengakuan atas dirinya dari dunia disekitarnya. Pengakuan tersebut dapat berimplikasi pada ‘label’ atas dirinya atau setidaknya menunjukkan keberadaannya di antara kerumunan masyarakat.
Selain untuk sebuah pengakuan, faktor ‘dikenal oleh banyak orang’ lah yang terkadang berperan banyak dalam mengejar eksistensi. Jika dikenal oleh banyak orang kesempatan untuk populer dan mendulang uang juga makin besar, setidaknya itulah yang dapat terjadi pada millenials.

Eksistensi Dalam Diri Manusia.
Pada dasarnya didalam setiap diri manusia tertanam ‘eksistensi’. Hal ini telah dijelaskan oleh berbagai disiplin ilmu, mulai dari seni, sains, filsafat dan agama. Jadi, gejala eksis dikalangan millenials memiliki keterkaitan dengan eksis yang tertanam pada diri manusia itu sendiri.
Eksistensi lahir dan tumbuh sejak manusia tersebut lahir, ia melekat sebagai suatu keadaan ‘ada’ atau ‘aku’ untuk menjadi pembeda dengan ‘tak ada’ atau ‘lain’ . Eksis berarti ‘ada’ yang akan melekat pada keinginan untuk menjermahkan ‘ada’ menjadi suatu ‘aku’ yang berimplikasi pada diri manusia itu sendiri yang dikenal sebagai pribadi.

Eksistensi dan Budaya Pop
Setelah kita memahami eksistensi dalam diri manusia, memandang fenomena pop culture yang terjadi bukanlah hal yang membuat kita menjadi aporia dengan melesatnya perubahan zaman. Fenomena tersebut hanyalah suatu implementasi yang terjadi ketika manusia ingin menunjukkan kepribadiannya pada khalayak ramai untuk mendapatkan label , popularitas , atau sekedar ikut-ikutan sebagai suatu trend.
Fenomena tersebut akan menjadi bahaya apabila keinginan menunjukkan eksistensi berbenturan dengan nilai dan norma hingga lahirlah suatu kontroversi yang dampaknya pada alam realitas. Fenomena pop culture yang melanda kita sering tidak memberikan manfaat apapun dan tak jarang lebih banyak bahaya dibandingkan manfaatnya.

Bahaya Budaya Pop
Sebagian dari kita mungkin menganggap pop culture sebagai suatu hal yang remeh dan tak perlu dipermasalahkan. Namun, pada prakteknya pop culture yang di gandrungi sekarang ini banyak menimbulkan bahaya. Beberapa kasus berikut ini menggambarkan bahaya dari pop culture.
Pada tahun 2016, seorang pengemudi menabrak seorang wanita di Jepang . Peristiwa tersebut terjadi karena si pengemudi terlalu asik bermain Pokemon Go.
Seorang Pemadam kebakaran di Amerika Serikat meninggal dunia akibat tersengat listrik ketika mengikuti Ice Bucket Challenge.
Seorang perempuan di Argentina bunuh diri, dicurigai karena mengikuti tantangan momo (Momo Challenge) yang beredar Via Whatsapp.
Pada Bulan Juli 2018, Polisi di berbagai negara melarang masyarakat melakukan keke challenge karena berbahaya dan telah terjadi kecelakaan akibat melakukan keke challenge di jalan raya.

Pandangan Islam
Dalam Islam perbuatan-perbuatan yang dijelaskan diatas termasuk pada hal yang berlebih-lebihan , terlebih lagi , bisa mengantarkan seseorang pada suatu bahaya.
Dalam Islam perbuatan berlebih-lebihan sangat dilarang, hal ini dapat dilihat dari hadits Dari Ibnu Mas’ud ra, bahwa Nabi saw bersabda: “Binasalah orang-orang yang berlebih-lebihan”, tiga kali Rasulullah menyebutkan hadits ini, baik sebagai berita tentang kehancuran mereka ataupun sebagai do’a untuk kehancuran mereka. (Diriwayatkan oleh Muslim (2670)).

Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa Orang-orang yang berlebih-lebihan ini, ialah orang-orang yang ucapan dan perbuatan mereka terlalu dalam dan melampaui batas. (Syarhun Nawawi ‘ala Muslim, 5/525, terbitan Asy Sa’b, Kairo).
Selain itu, Islam melarang kita untuk melakukan perbuatan yang sia-sia dan cenderung timbul mudharat didalamnya.
“Di antara tanda baiknya keislaman seseorang ialah ia meninggalkan segala yang tidak bermanfaat untuknya” (HR. Tirmidzi).
Penutup
Segala hal ihwal mengenai eksistensi dan fenomena #challenge tersebut mengantarkan kita pada suau konklusi bahwa setiap diri manusia tertanam keinginan untuk eksis sebagai hal yang melekat kepada identitas manusia. Namun , keinginan untuk eksis tersebut tidak boleh sampai melanggar nilai dan norma bahkan membahayakan diri sendiri maupun orang lain. Perbuatan tersebut jika sia –sia dan berlebihan apalagi berbahaya lebih baik ditinggalkan. Ganti dengan kreativitas dan hal – hal lain yang lebih bermanfaat baik bagi diri kita dan orang disekitar kita.

Ditulis Oleh :
Bidang Kajian dan Strategis UKM Islam Hudzaifah Trisakti