bendera_tauhid_dibakar

PERNYATAAN DAN SIKAP

Atas Pembakaran Bendera Bertuliskan Kalimat Tauhid

Peringatan Hari Santri Nasional tertanggal 22 Oktober 2018 kemarin, sebenarnya menjadi momentum bagi kita sebagai bangsa dan negara ,khususnya kaum terpelajar untuk turut bersama-sama dengan para santri untuk berkontribusi membangun negara dan bangsa.

Kita yang berbeda latar belakang baik secara geografi dan sosial diharapkan dapat melebur dalam membangun negara tanpa menanggalkan identitas-identitas kita masing-masing. Itulah salah satu semangat dirayakannya Hari Santri Nasional.

Namun, suatu kejadian yang ‘tidak mengenakan’ telah menodai semangat membangun tersebut dan berpotensi memecah belah kita sebagai suatu bangsa yang beradab.

Kejadian tersebut adalah peristiwa terjadinya pembakaran bendera yang terdapat tulisan tauhid didalamnya oleh suatu oknum.  Peristiwa tersebut tak ayal memancing kemarahan sebagai seorang Muslim karena pembakaran bendera bertuliskan tauhid tersebut dirasa sama dengan menodai martabat umat Islam.

Dasar Hukum Islam

Lafal Alquran, Asma Allah dan Nabi Muhammad ﷺ hukumnya wajib dimuliakan. Benda apapun yang bertuliskan Alquran, asma Allah dan Nabi Muhammad ﷺ tidak boleh dibawa ke tempat kotor, seperti WC dan lainnya. Bahkan jika kedapatan berada di tempat yang tidak layak, seperti jatuh di tanah, maka wajib mengangkatnya dan meletakkan di tempat yang tinggi sekiranya tidak sejajar dengan posisi kaki.

Karena itu, ulama Syafi’iyah menghukumi makruh menulis kalimat Alquran, kalimat tauhid dan lainnya pada benda yang sekiranya sulit menjaga kemulian kalimatkalimat tersebut. Misalnya, menulis nama Allah pada bendera, undangan, baju, topi, dan lainnya. Bahkan ulama Malikiyah berpendapat haram karena akan menyebabkan kalimat-kalimat tersebut diremehkan. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam kitab Al Mausu’ah Al-Kuwaitiyah berikut.

“Ulama Syafi’iyah dan sebagian ulama Hanafiyah berpendapat terhadap kemakruhan mengukir (menulis) dinding dengan Alquran karena dikhawatirkan jatuh di bawah kaki manusia. Sementara itu, ulama Malikiyah berpandangan bahwa haram menulis Alquran dan nama Allah di atas dinding karena akan menyebabkan nantinya disepelekan.”

Apabila terlanjur ditulis pada benda tersebut, maka para ulama menyarankan dua tindakan untuk menjaga dan memuliakan kalimat-kalimat tersebut. Pertama, kalimatkalimat tersebut dihapus dengan air atau lainnya. Kedua, benda tersebut dibakar dengan api.

Syaikh Zainuddin Al-Malibari mengatakan dalam kitabnya Fathul Mu’in, bahwa menghapus dengan air lebih utama dibanding membakarnya. Hal ini jika proses menghapus dengan air tersebut mudah dilakukan dan airnya tidak jatuh ke tanah. Namun jika sulit menghapusnya atau airnya jatuh ke tanah, maka membakarnya lebih utama.

Dalam kitab Tuhfatul Muhtaj disebutkan;

“Membasuh lebih utama dibanding membakarnya. Ini jika mudah dan tidak dikhawatirkan airnya jatuh ke tanah. Jika sebaliknya, maka membakarnya lebih utama, (Bujairimi dengan ibarat Al-Bashri). Syaikh Izzuddin mengatakan, caranya ialah membasuhnya dengan air atau membakarnya dengan api. Sebagian ulama mengatakan, membakarnya lebih utama karena membasuh dengan air akan jatuh ke tanah.”

Dari hukum-hukum tersebut dapat disimpulkan dan dijelaskan bahwa jika ada benda yang dilekatkan tulisan tauhid didalamnya maka tidak serta merta membuat benda tersebut menjadi suci , namun perlu diperhatikan juga bahwa benda tersebut tak boleh diletakkan secara sembarangan karena berpotensi benda tersebut akan rusak dan lebih diutamakan untuk dihilangkan kalimat tersebut apabila khawatir benda tersebut akan terinjak, ditempatkan dibawah dan sebagainya serta diniatkan untuk menjaga (kalimat tauhid) nya

Sebagai kaum muslimin dan hidup di tengah-tengah mayoritas islam tentu melakukan aksi dan penindakan pembakaran bendera bertuliskan tauhid tidak dapat dibenarkan karena kita tak mengetahui niatan sesungguhnya dari pengibaran bendera tersebut dan pastinya perbuatan tersebut tidak tepat karena akan membawa kemarahan bagi umat islam ,terlebih kalimat tauhid adalah kalimat yang suci dan sakral karena ia adalah deklarasi kita terhadap Allah untuk hidup dan mati di agama Allah dan bersedia mengikuti segala perintah dan menjauhi larangan-Nya.

Dalam  suatu hadits shahih dikatakan bahwa;

”Berkata Muusa ‘alayhis salaam: ‘Wahai Rabb, ajarkanlah padaku sesuatu yang dengannya aku berdzikir kepadaMu dan berdoa kepadaMu’. Maka (Allaah) berfirman: ‘Wahai Muusaa, Ucapkanlah: ‘Laa ilaaha illaLLaah’. Berkata (Muusaa) : ‘Setiap hambaMu mengucapkan hal ini’. (Allaah) berfirman: ‘Wahai Muusaa, seandainya langit yang tujuh serta seluruh penghuninya, selain Aku, dan ketujuh bumi diletakkan dalam satu sisi timbangan dan kalimat Laa ilaaha illaLLaah diletakkan pada sisi lain timbangan, niscaya kalimat Laa ilaaha illaLLaah lebih berat timbangannya’…”

Maka, daripada itu merupakan suatu tindakan yang tak mulia dan tak dapat ditolerir jika seorang muslim dengan sengaja dan tergesa-gesa melakukan pembakaran kalimat tauhid pada suatu benda hanya dengan penalaran asumsi semata yang seterusnya dikaitkan hal tersebut dengan suatu organisasi terlarang di Indonesia.

Dengan ini, UKM Islam Hudzaifah sebagai Unit Kegiatan Islam di Kampus Trisakti Menyatakan bahwa :

  1. Kalimat tauhid adalah kalimat yang sifatnya suci, tinggi dan merupakan kesungguhan deklarasi seorang umat muslim terhada Allah untuk siap hidup dan mati di jalan Allah sekaligus bersedia menjalani perintah dan larangan-Nya.
  2. Penggunaan Kalimat Tauhid perlu diiringi dengan niat yang ikhlas dan tulus dalam memperjuangkan agama Allah serta bukan suatu hal yang dapat dipermainkan.
  3. Meneguhkan Keimanan dan Ketakwaan kita dan terus memberikan sikap dan akhlak terbaik sebagai agama rahmatan Lil alamin.
  4. Penindakan membakar bendera bertuliskan tauhid dalam situasi dan kondisi yang tidak tepat, sangat disayangkan dan tidak dapat ditolerir karena pasti memancing kemarahan umat Islam.
  5. Pentingnya untuk terus menjaga persatuan dan kesatuan dalam bernegara. Menjaga kalimat Tauhid sama pentingnya dengan menjaga hidup, martabat dan derajat saudara-saudara kita yang seiman.

 

Ditulis Oleh:

Departemen Kajian Strategis UKM Islam Hudzaifah Trisakti