|
|
|
| Opini dan Aspirasi |
[1377 Reads]  |
|
Waspadai Adu Domba antar Umat Islam di Indonesia |
Posted by: hendra on Monday, August 13, 2007 - 05:08
|
Hudzaifah.org - Hari ini Indonesia bisa dikatakan merupakan negara yang demokratis. Hal tersebut terlihat dari masa transisi Indonesia yang saat ini masih berlangsung sejak digulirkannya reformasi pada tahun 1998 lampau. Pada masa transisi saat ini, penerapan demokrasi di Indonesia melahirkan beberapa keputusan-keputusan penting dalam skala nasional melalui proses yang disepakati bersama dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Keputusan-keputusan tersebut antara lain pelaksanaan Pemilu 2004, amandemen UUD, pemilihan Presiden dan Wakil Presiden secara langsung oleh rakyat, Pilkada, otonomi daerah, otonomi khusus untuk beberapa daerah tertentu, dan sebagainya.
Terlepas dari segala kekurangan dan kelebihan yang ada, penerapan demokrasi di Indonesia boleh dibilang lebih demokratis ketimbang negara yang seringkali mendengung-dengungkan demokrasi, yaitu Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya. Jika ada kekurangan, maka itu lebih diakibatkan karena Indonesia masih dalam masa transisi, proses pendewasaan, dan juga karena faktor pendidikan dan ekonomi masyarakat yang rata-rata belum memadai untuk berdemokrasi.
Kondisi seperti tersebut di atas memberikan suasana yang kondusif untuk dakwah (baca: Islam) yang diusung oleh berbagai gerakan Islam di Indonesia. Dengan adanya alam demokrasi, maka semua entitas masyarakat bebas berserikat, bebas menyampaikan aspirasinya, selama tidak keluar dari koridor hukum di Republik Indonesia. Gerakan Islam pun memanfaatkan alam demokrasi ini untuk menyampaikan aspirasinya, di antaranya dengan membentuk partai-partai Islam sebagai sarana mereka untuk terus berkembang mencapai tujuan masing-masing. Dari 24 partai yang mengikuti pemilu 2004, terdapat berbagai partai Islam maupun partai yang berbasis massa Islam. Partai yang berideologi Islam misalnya Partai Bulan Bintang (PBB), Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Partai Persatuan Pembangunan (PPP), dan sebagainya. Sedangkan contoh Partai yang berbasis massa Islam misalnya Partai Amanat Nasional (PAN) dan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Beberapa partai ada yang mengalami kemajuan, ada pula yang mengalami kemunduran. Namun secara akumulatif, keberadaan partai-partai Islam dan yang berbasis massa Islam tersebut, cukup mewarnai area politik yang seringkali dikatakan sebagai area terlarang bagi agama.
Di luar partai-partai tersebut di atas, juga ada organisasi Islam di Indonesia yang sudah berdiri jauh sebelumnya, mereka antara lain Muhammadiyah, Nadhatul Ulama (NU), Persatuan Islam (Persis), Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII), Al-Irsyad Al-Islamiyyah, dan lain-lain. Di samping itu juga ada Majelis Ulama Indonesia (MUI), Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Daarut Tauhiid (DT), dan sebagainya. Masing-masing organisasi tersebut, beberapa di antaranya memiliki hubungan erat dengan partai Islam kontestan Pemilu 2004.
Kondisi tersebut di atas, ditambah dengan realita bahwa umat Islam adalah mayoritas di Indonesia, semakin mempercepat proses pendewasaannya. Keberadaan gerakan Islam di Indonesia dengan berbagai bentuknya, secara tidak langsung turut memajukan umat Islam di Indonesia. Islam tidak lagi menjadi sesuatu yang “memalukan” untuk diikuti. Contohnya penggunaan jilbab. Jika pada zaman orde baru, jilbab diidentikkan dengan keterkekangan, fundamentalisme, saat ini jilbab justru menjadi tren bahkan mode. Perjuangan umat Islam dalam mengusung UU Sisdiknas juga menjadi momen penting yang menunjukkan semakin cerdasnya ummat. Contoh lainnya masih banyak. Misalnya semakin berkembangnya ekonomi syariah, bertambahnya peminat bank-bank syariah, menjamurnya lembaga zakat, hukum zakat, hukum nikah, hukum waris, penolakan terhadap legalisasi pelacuran, sampai pada penolakan pada pornografi dan pornoaksi yang dilakukan oleh umat Islam. Syiar Islam kini semakin membumi di Indonesia.
Hal tersebut di atas tentu membuat kalangan yang membenci Islam berpikir keras bagaimana caranya agar dapat menghambat hal tersebut terus berkembang. Apalagi Indonesia sebagai negara dengan jumlah penduduk terbesar ke-4 di dunia dan berpenduduk Islam terbesar di dunia, merupakan “ancaman” serius apabila Islam bangkit di dalamnya. Kalangan yang membenci Islam tersebut di wakili oleh kelompok-kelompok yang berorientasi kepada materialisme, seperti kapitalis, sosialis, dan sebagainya, juga kelompok-kelompok yang berorientasi kepada radikalisme agama kristen, dan yahudi. Amerika, beberapa negara di Eropa, dan sekutunya, dengan PBB sebagai salah satu sarana propaganda mereka, berupaya sekuat tenaga untuk menghambat realisasi kebangkitan Islam tersebut. Beberapa upaya mereka antara lain dengan mengkampanyekan isu “perang terhadap terorisme”, adu domba, membentuk organisasi lokal tertentu sebagai perpanjangan tangan penjajah, merusak generasi mudanya, dan sebagainya.
Apa yang mereka lakukan pada saat ini, sesungguhnya tidak jauh berbeda dengan apa yang dilakukan oleh para pendahulu-pendahulu mereka. Isu “perang terhadap terorisme”, sebenarnya tidak berbeda dengan isu yang dikampanyekan oleh Belanda ketika menjajah Indonesia, yaitu isu memburu para ekstrimis-ekstrimis. Ekstrimis-ekstrimis yang dimaksud ini tidak lain adalah para pahlawan nasional yang berusaha membebaskan nusantara dari penjajah, seperti Sultan Hasanuddin, Kapiten Pattimura, Teuku Umar, dan sebagainya. Sedangkan upaya adu domba juga pernah dilakukan oleh Belanda ketika menjajah Indonesia dengan “devide et impera”nya, yang mengadu domba antar entitas di Nusantara yang pada waktu itu masih berbentuk kerajaan-kerajaan. Mereka juga mengadu domba antar lapisan masyarakat pada waktu itu. Antara yang mereka lakukan pada masa lalu dengan saat ini, adalah sama-sama menjungkirbalikkan fakta. Fakta mana lawan mana kawan, dijungkirbalikkan sedemikian rupa sehingga masyarakat awam kebingungan mana kawan yang harus mereka dukung. Yang membedakan antara dahulu dengan saat ini, antara lain adalah saat ini mereka memanfaatkan teknologi, mengembangkan teknik intellijen yang semakin canggih, dan menggunakan istilah-istilah berbeda namun substansinya sama.
Di Indonesia dan seluruh dunia, sudah lama didengungkan isu perang terhadap terorisme, khususnya semenjak peristiwa 11 September dan Bom Bali. Selain isu tersebut, saat ini diindikasikan adanya upaya adu domba di Indonesia, khususnya adu domba sesama umat Islam di Indonesia. Isu terorisme sejatinya juga beririsan dengan upaya adu domba ini. Karena dengan adanya isu tersebut, terjadi “adu domba” antara pemerintah dengan rakyatnya akibat kecurigaan berlebihan yang diprovokasi oleh Barat, serta adu domba antara lapisan masyarakat.
Program adu domba tersebut berupaya membentur-benturkan antar sesama elemen bangsa, khususnya antar sesama organisasi Islam. Upaya adu domba ini semakin diprovokasi dengan keberadaan Jaringan Islam Liberal (JIL) yang merupakan jaringan khusus untuk memporak-porandakan keaslian Islam dan kesatuan umat Islam. Opini-opini yang dikeluarkan oleh JIL ini selalu menjadi katalisator agar antar ormas Islam saling menyerang.
Salah satu isu yang diangkat dalam upaya adu domba ini adalah agar gerakan Islam di Indonesia perlu mewaspadai adanya gerakan Islam yang berasal dari luar Indonesia. Alasannya adalah keberadaan beberapa gerakan Islam yang berskala internasional tersebut mengancam keberadaan NKRI. Gerakan Islam lokal juga ditakut-takuti dengan akan diambil alihnya basis massa mereka dan sarana mereka. Indikasi adu domba ini dapat dirasakan dengan munculnya beberapa kali pernyataan yang dilontarkan oleh segelintir pemimpin di Nadhatul Ulama. PP Muhammadiyah juga sempat mengeluarkan Surat Keputusan Nomor 149/Kep/I.0/B/2006 Tentang Kebijakan Pimpinan Pusat Muhammadiyah Mengenai Konsolidasi Organisasi Dan Amal Usaha Muhammadiyah.
Padahal isu-isu untuk mengadu domba yang dilontarkan oleh pihak tertentu itu lebih banyak keluar dari dugaan-dugaan semata, tidak berdasarkan fakta yang ada. Semuanya fitnah belaka. Isu-isu yang dilontarkan itu sebenarnya hanya sebuah tipu daya. Allah SWT mengingatkan kita akan hal ini:
يُرِيدُونَ أَن يُطْفِؤُواْ نُورَ اللّهِ بِأَفْوَاهِهِمْ وَيَأْبَى اللّهُ إِلاَّ أَن يُتِمَّ نُورَهُ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ
“Mereka berkehendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahayaNya, walaupun orang-orang yang kafir tidak menyukai.” (QS. At Taubah [9]: 32)
Allah SWT juga mengingatkan hal serupa dalam firman-Nya:
يُرِيدُونَ لِيُطْفِؤُوا نُورَ اللَّهِ بِأَفْوَاهِهِمْ وَاللَّهُ مُتِمُّ نُورِهِ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ
“Mereka ingin memadamkan cahaya Allah dengan mulut (tipu daya) mereka, tetapi Allah (justru) menyempurnakan cahaya-Nya, walau orang-orang kafir membencinya". (QS. Al An’am [6]: 8).
Upaya adu domba ini harus dicermati dengan baik oleh seluruh pemimpin gerakan Islam, baik itu yang berskala nasional maupun internasional, baik itu yang berbentuk ormas maupun yang berbentuk partai politik. Para pemimpin di NU, Muhammadiyah, PKB, PAN, PKS, PPP, PBB, dsb, harus menyadari betul adanya upaya adu domba ini. Karena pada dasarnya jika mereka terjebak untuk turut serta “mensukseskan” upaya adu domba ini, yang rugi adalah Republik Indonesia itu sendiri. Jika kita belajar dari sejarah, saling bergesekan antar elemen bangsa, apalagi sesama umat Islam, adalah tidak pernah ada untungnya. Yang ada adalah justru kerugian, tercorengnya demokrasi, penderitaan rakyat yang berkepanjangan, porak porandanya kedaulatan negara, dan Indonesia akan terus berada dalam kebodohan dan kemiskinan di bawah dominasi negara-negara Barat dengan segala sarana mereka (seperti IMF, PBB, UNDP, USAID, AUS-AID, World Bank, Ford Foundation, dll).
Solusi yang penulis tawarkan untuk itu adalah perlu dieratkannya kembali ukhuwah Islamiyah, dan perlu adanya “tantangan bersama”. Ukhuwah Islamiyah sebagai salah satu kewajiban dalam Islam harus dieratkan dan dipertahankan. Saling perbanyak silaturahim antar ormas Islam. Dengan adanya silaturahim juga dapat dijadikan sarana untuk saling tabayun. Karena Islam mengajarkan prinsip tabayun (check and richeck) jika menerima isu dan gosip dari orang-orang fasik. Upayakan untuk mengeliminir segala perbedaan yang ada. Bekerjasamalah dalam hal-hal yang disepakati, dan saling memaafkanlah dalam masalah-masalah yang terdapat perbedaan pendapat di dalamnya. Para pendahulu negeri ini bahkan mengumandangkan: “bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh”. Karena tanpa persatuan, umat Islam sulit maju. Jika umat Islam tidak maju, maka bangsa ini tidak akan maju. Karena realitanya umat Islam adalah mayoritas di negeri ini. Sedangkan tantangan bersama untuk gerakan Islam sebaiknya juga disepakati. Misalnya, gerakan Islam tertantang untuk sama-sama berjuang membangun negara kepulauan ini menjadi sebuah negara yang maju secara integral, berpendidikan, dan modern, serta membebaskannya dari berbagai bentuk penjajahan ekonomi, politik, sosial, budaya dari negara lain, dan sebagainya.
Akhirnya sebagai penutup, kita yakin dengan janji Allah dalam surat At Taubah ayat 32 dan surat Al An’am ayat 8, bahwa dengan segala tipu daya yang mereka lakukan, Allah azza wa jalla justru menyempurnakan cahaya-Nya walau orang-orang kafir tidak menyukai dan membencinya. []
|
| |
|
| Waspadai Adu Domba antar Umat Islam di Indonesia | Log-in or register a new user account | 0 Comments |
|
| Comments are statements made by the person that posted them. They do not necessarily represent the opinions of the site editor. |
|