|
|
|
| Pernik |
[686 Reads]  |
|
Sebuah Pilihan |
Posted by: didit on Monday, December 10, 2007 - 01:15
|
Idealisme dan Nilai Kejujuran
Hudzaifah.org - Minggu pagi, selepas subuh hariku selalu diisi dengan olahraga. Dan minggu pagi kali ini aku sangat bersemangat untuk melakukan aktivitas olahraga. Mengendarai sepeda dari rumah kemudian setibanya di tempat olahraga aku lanjutkan dengan lari santai, itulah kebiasaanku setiap pekannya. Dengan sepeda pemberian kakakku aku mulai melangkah ke tempat di mana memang orang banyak melakukan aktivitas olahraga. Tiba di sana aku langsung parkir di tempat biasa aku parkir sepeda.
Setelah pemanasan kecil akupun mulai lari santai, target aku hari ini adalah lari santai selama tiga puluh menit tanpa berhenti. Dan alhamdulillah aku dapat memenuhi targetku. Aku pun melanjutkan dengan peregangan dan setelah itu aku sudahi, karena aku sudah merasa amat sangat letih ditambah harus bersepeda lagi ke rumah yang berjarak sekitar 2 km.
Dahaga tak dapat kutahan lagi, aku pun menuju pedagang yang menjajakan air minum. Sambil menuntun sepeda aku mulai mencari minuman yang aku cari, air mineral tapi yang bukan diproduksi oleh perusahaan Yahudi, yaa itulah yang selalu menjadi acuan pertama ketika aku akan membeli air mineral. Alhamdulillah akhirnya aku lihat ada pedagang yang menjual air mineral bukan produksi Yahudi, setelah beberapa pedagang yang aku lihat sebelumnya menjajakan minuman yang mereknya ketika kita mau membeli ataupun ditawarkan air mineral selalu terucap.
Si penjual seorang ibu tua dengan jilbab pink yang menutupi kepalanya, akupun langsung saja mengambil salah satu botol dan kemudian aku membayarnya. Lega rasanya ketika air yang mengusir dahagaku itu bukanlah buatan orang-orang Yahudi. Tetapi tak lama kemudian aku sedikit kesal ketika si ibu memberikan kembalian kepadaku tidak seperti harga air mineral ini seperti di jual pada umumnya, si ibu menaikkan harganya seribu rupiah. Terang saja aku protes karena harga yang di luar normal itu, tetapi si ibu langsung menjawab kalau harga di semua tukang dagang sama semua seperti harga yang ia jual kepadaku. Rasa kesalku belum hilang, si ibu kembali membuatku kecewa dia mendumel tentang satpam yang bertugas menjaga lingkungan sekitar tidak memberi izin bagi pedagang berjualan di dalam komplek olahraga, “Kapan perginnya sih tuh satpam!” gumam si ibu yang kemudian mengibas-ngibaskan uang yang tadi aku beri ke dagangannya sambil berucap “laris-laris.”
Tak lama kemudian ada anak muda yang menghampiri pedagang minuman di samping si ibu berjualan yang juga menjual air mineral bukan produk Yahudi. Si anak muda bertanya tentang harga air mineral seperti yang aku beli, dan ternyata harga yang ditawarkan lebih murah dibanding dengan harga yang harus kubayarkan kepada si ibu tadi! Kontan hatiku merasa di tipu oleh si ibu, selain harga yang aku bayarkan sangat mahal dia juga telah berdusta dengan mengatakan bahwa semua pedagang menjual dengan harga yang sama, belum lagi kegiatan yang tadi dia lakukan dengan mengumpat satpam dan juga aktifitas mengibaskan uangnya yang menurutku mungkin itu adalah syirik kecil makin membuat hatiku ingin marah kepadanya.
Setelah menghela nafas akhirnya aku dapat mengendalikan emosi dan kemudian setelah itu aku berpikir untuk sebaiknya langsung pulang saja, khawatir emosi yang tadi telah tersulut kemudian dapat diredam akan kembali berkobar. Dengan menuntun sepeda aku menuju rumah, sambil bertanya-tanya dalam hati, “Kok bisa begitu yaa. Awalnya mencari minuman yang bukan produk Yahudi demi mempertahankan idealisme, tetapi malah didustai oleh saudara sendiri (si ibu menggunakan jilbab berarti muslim). Pertanyaan itu terus menghantuiku, tetapi kemudian akau tersadarkan bahwa apa yang ada di pikiranku tadi bisa saja merupakan hasutan setan yang selalu berusaha menjerumuskan manusia untuk jauh dari nilai-nilai luhur Islam. Aku pun mencoba berpikiran positif, teringat akan nasehat Aa Gym yang mengatakan bahwa kalau kita dalam membelanjakan uang kita ke pedagang lokal sebaiknya memberi lebih, tak perlu ditawar. Wahh konsep yang jenius, dan mungkin ini kesempatanku untuk mempraktekannya, perasaanku cukup terobati. Kemudian ketika aku lihat botol air mineral yang masih aku pegang, akhirnya aku pun tersenyum lega, aku telah menjadi pemenang hari ini dengan tidak membelanjakan uangku untuk membeli produk Yahudi. Setidaknya air mineral yang aku teguk bukanlah darah saudara-saudaraku di Palestina. Untuk kedustaan sang ibu yaa aku maafkan saja, nanti tinggal dia berurusan pada Allah sajalah pikirku dan kemudian aku menaiki sepeda, rasa kecewaku pun hilang, sepedaku kayuh dengan cepat agar dapat segera tiba di rumah.
Sesungguhnya Islam mengajarkan nilai-nilai yang sangat indah, andai semua muslim Indonesia mulai dari pejabat hingga warga kelas bawah dapat mempraktekannya niscaya negeri ini akan menjadi negeri yang kaya. Islam bukanlah sebuah paham yang sempit, andai saja semua muslim di penjuru dunia tidak membalanjakan uangnya untuk membeli produk Yahudi niscaya tidak ada lagi bocah-bocah Palestine yang tewas tertembus peluru yang biaya pembuatanya adalah dari uang yang dibelanjakan kaum muslim. Idealisme dan kejujuran seorang muslim adalah sesuatu yang sangat mahal harganya, dan itu juga sulit untuk tetap kita pertahankan, semoga kita tetap istiqomah di jalan dakwah. []
|
| |
|
| Sebuah Pilihan | Log-in or register a new user account | 0 Comments |
|
| Comments are statements made by the person that posted them. They do not necessarily represent the opinions of the site editor. |
|