|
|
|
| Kajian |
[1396 Reads]  |
|
Ancaman Terhadap Organisasi Pergerakan Islam (Bagian ke-1): Mukmin yang Mendengki |
Posted by: Admin on Sunday, February 03, 2008 - 03:05
|
Oleh: Ir. Syamsu Hilal
Hudzaifah.org - Sudah menjadi sunatullah bahwa setiap upaya menjalankan syariat Islam akan mendapat tantangan dan tekanan dari pihak-pihak yang tidak suka dengan kejayaan Islam. Para Nabi dan Rasul yang diutus oleh Allah SWT untuk mengarahkan kehidupan manusia kepada kehidupan yang harmonis, lurus, penuh rahmat dan berkah, selalu mendapat tantangan dan tekanan dari kaumnya atau dari penguasa zalim yang takut kehilangan tahtanya. Nabi Musa AS dikejar-kejar Fir'aun. Nabi Ibrahim AS dibakar di perapian yang besar oleh Raja Namrud, dan Nabi Muhammad SAW dikecam, ditentang, dan diboikot oleh Abu Lahab, Abu Jahal, dan para petinggi Quraisy lainnya. Begitu pun nabi-nabi lainnya mengalami hal ang sama. Tentang hal ini, Rasulullah SAW bersabda,
"Orang mukmin senantiasa berada di antara lima ancaman berat, yaitu mukmin yang mendengkinya, munafik yang membencinya, kafir yang memeranginya, syetan yang menyesatkannya, dan nafsu yang melawannya." (Hadits ini dikeluarkan oleh Abu Bakar bin Lai dari Hadits Ana dalam Makarim Al-Akhlak).
1. Mukmin yang Mendengki
Sesungguhnya hasad (dengki) adalah salah satu penyakit hati yang sangat berbahaya. Hasad dapat mengikis keimanan seorang mukmin jika ia tidak segera menyembuhkannya dengan bertabuat kepada Allah. Dengki adalah suasana hati di mana seseorang merasa susah melihat orang lain senang, dan merasa senang melihat orang lain susah. Dan seorang pendengki biasanya menyebarkan isu unuk menciptakan permusuhan di tengah-tengah masyarakat. Rasulullah SAW bersabda,
"Penyakit umat sebelum kamu telah menular kepadamu, yaitu dengki dan permusuhan. Permusuhan itu adalah pencukur (pengikis). Saya tidak maksudkan mencukur rambut, tetapi yang saya maksudkan adalah mencukur (mengikis) agama." (HR Al-Baihaqi).
Para penyeru di jalan Allah, khususnya yang mendapat simpati dan sambutan baik di tengah-tengah masyarakat senantiasa terancam oleh provokasi dan tipu daya kelompok-kelompok pendengki. Sebuah ormas atau partai politik Islam yang mendapat simpati luas di kalangan masyarakat tentu akan memancing dan mengundang orang atau kelompok-kelompok pendengki untuk berupaya merusak citra oramas atau partai politik tersebut. Kelompok ini mendengki setiap kelebihan yang ada pada ormas atau parpol itu. Mereka selalu mencari peluang dan kelemahan-kelemahan kecil yang mungin ada, kemudian memblow-upnya menjadi sebuah isu besar untuk menghantam kelompok atau organisasi yang tidak disukainya. Mereka senantiasa mengintai dan menanti-nanti kesempatan untuk menghancurkan dan merusak nama baiknya.
Apa yang terjadi pada Masyumi setidaknya menggambarkan hal di atas. Sebagaimana diketahui, hasil Pemilu 1955 menempatkan Masyumi dan NU di peringkat kedua dan ketiga dengan perolehan suara masing-masing 20,9% dan 18,4% di bawah PNI (22,3%). PKI ada di urutan keempat dengan perolehan suara 16,4%. Hasil ini menjadikan umat Islam menguasai 45% kursi di parlemen. Konfigurasi kekuatan politik seperti ini dianggap sebagai ancaman bagi kelompok nasionalis, komunis, dan kelompok agama-agama lainnya. Belum sempat wakil-wakil umat Islam di parlemen menyusun langkah ke arah penerapan syariat Islam, Soekarno yang menjabat Presiden pada waktu itu telah mendahului melakukan provokasi melalui pidatonya pada 27 Januari 1953 di Kalimantan Selatan. Dia menegaskan, "Kalau kita dirikan negara berdasarkan Islam, maka banyak daerah-daerah yang melepaskan diri, misalnya Maluku, Bali, Flores, Timor, Kai, dan juga Irian Barat yang belum masuk wilayah Indonesia tidak mau ikut dalam Republik" (Endang Saifuddin Anshari, 1986).
Pidato itu tentu saja mendapat tepuk tangan dari kalangan kaum nasionalis-sekuler, kaum komunias, dan kelompok non-muslim. Masyarakat Islam digiring kepada sebuah opini yang membahayakan, yaitu pendapat yang menganggap penerapan syariat Islam dapat memecah-belah persatuan dan kesatuan nasional. Isu tersebut terus bergulir bak bola salju, dan Masyumi yang konsisten memperjuangkan hak-hak umat Islam dikucilkan dari percaturan politik nasional. Akhirnya tanpa alasan yang jelas, Soekarno membubarkan Masyumi pada tahun 1960. Dan kita mengetahui bahwa Soekarno adalah seorang muslim.
Hal yang sama juga terjadi pada FIS di Aljazair dan Partai Refah di Turki. Kedua kekuatan politik Islam tersebut tidak diberikan kesempatan untuk memberikan teladan tentang pengelolaan negara yang amanah dan penuh tanggung jawab, padahal keduanya sama-sama telah memenangkan pemilu di negerinya masing-masing.
Dakwah dan pergerakan Islam sepanjang sejarahnya senantiasa menyaksikan peristiwa-peristiwa tragis dan menyedihkan di mana penyebab utamanya adlaah sifat dengki. Kedengkian yang datang dari "kerabat" sendiri bukan dari orang jauh. Seorang penyair berkata, "penganiayaan oleh kaum kerabat lebih sakit dirasa seseorang daripada tikaman pedang baja India."
Betapa banyak para pemimpin dan tokoh yang difitnah dan dicerca, dituduh dengan berbagai tuduhan palsu, hanya karena kedengkian seseorang yang "sakit jiwa" yang tidak mengindahkan akhlak terhadap orang lain. Betapa banyak fitnah dan kebencian yang dikobarkan karena kedengkian jiwa. Betapa banyak jamaah yang porak poranda karena amukan kedengkian, Wahai para pendengki, sadarlah pengikut Nabi Muhammad SAW sesungguhnya tak pernah memiliki sifat demikian, sebagaimana ditegaskan beliau dalam sebuah hadits, "Bukan termasuk umatku, orang yang berhati dengki, yang mengumpat dan tukang ramal, dan aku bukanlah bagian dari mereka." Kemudian Rasulullah SAW membaca firman Allah SWT,
"Mereka menyakiti orang-orang beriman laki-laki dan perempuan (dengan membuat fitnah) padahal orang-orang (mukmin) itu tidak berdosa, maka sesungguhnya pembawa fitnah itu telah memikul beban dusta dan dosa yang nyata" (QS. Al Ahzab: 58).
Orang-orang yang hatinya telah dikuasai sifat dengki dapat dengan mudah melakukan kebohongan dan fitnah di hadapan publik untuk melampiaskan nafsunya kepada si korban. Alangkah baiknya seandainya mereka menyadari bahaya dengki sebagaimana ditegaskan Rasulullah SAW,
"Siapa saja yang menfitnah orang muslim dengan sesuatu hal padahal muslim itu bersih dari apa yang dituduhkan, dengan tujuan untuk menjatuhkan nama baiknya di dunia, maka pasti Allah akan meleburkannya pada hari kiamat ke dalam neraka sampai ia dapat membuktikan kebenaran dari apa yang dituduhkannya" (HR Thabrani).
Imam Ghazali dalam kitab Ihya 'Ulumuddin menjelaskan bahwa para pendengki biasanya mengidap penyakit lain di dalam hatinya seperti perasaan permusuhan dan kebencian, rasa bangga akan dirinya, sombong, ujub, ambisi kekuasaan, dan popularitas. Menghadapi orang-orang pendengki, seorang aktifis pergerakan Islam harus senantiasa bersabar serta memohon perlindungan Allah dari kejahatan jiwa dan kedengkian orang lain. Jangan terpancing untuk melakukan tindakan balasan dengan cara-cara yang tidak Islami. Teruslah melakukan amar ma'arud dengan cara-cara yang ma'ruf dan melakukan nahi mungkar tidak dengan cara-cara yang mungkar. Perbanyaklah melakukan kebaikan di tengah-tengah masyarakat dan menyerahkan kepada Allah segala kemelut yang menimpanya. Dialah Yang Maha Mengetahui segala sesuatu yang ada di langit dan di bumi. Dan Allah pasti tidak akan pernah melupakan tindakan-tindakan yang dilakukan orang-orang zalim. Rasulullah SAW bersabda,
"Tidak ada satu tegukan yang lebih dicintai Allah kecuali seteguk kemarahan yang ditelan (direndam) oleh seseorang. Tidaklah seseorang merendam suatu kemarahan karena Allah, kecuali Allah akan memenuhi batinnya dengan keimanan."
Dalam hadits lain, beliau bersabda,
"Orang yang dipancing kemarahannya, tetapi ia dapat merendam dan bersikap lemah-lembut (hilm), maka wajiblah ia mendapat kecintaan Allah" (HR. AShbahani)
Beliau juga menambahkan,
"Maukah kalian aku ceritakan tentang sesuatu yang dapat menambah kemuliaan dan mengangkat derajat seseorang di sisi Allah? Mereka menjawab, "Tentu wahai Rasulullah." Beliau bersabda, "Kamu berlaku lemah lembut terhadap orang yang memperlakukan kamu sebagai orang bodoh, memaafkan orang yang menzalimi kamu, memberi kepada orang yang sama sekali tidak suka memberi kepadamu, menyambung tali silaturahim orang-orang yang memutuskan silaturahim" (HR. Thabrani). []
(Bersambung, bagian ke-2: Munafik yang Membenci)
|
| |
|
| Ancaman Terhadap Organisasi Pergerakan Islam (Bagian ke-1): Mukmin yang Mendengki | Log-in or register a new user account | 0 Comments |
|
| Comments are statements made by the person that posted them. They do not necessarily represent the opinions of the site editor. |
|