Welcome Guest : : Register Lost Password Log-in : :

Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap pemimpin dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya tersebut.

-- Hadits

AGENDA: 

Upcoming Events

Sun, 22 March 2009


[ Search ]
 
Hudzaifah.org
Poll 
Media apakah yang kini mendominasi sebagai media sumber informasi sehari-hari kamu?

[ Results | Polls ] Votes: 1073  
Halaqah 
Mengenal Islam (I)...
Mengenal Islam (VI...
Mengenal Islam (V)...
 
Advanced Search
Dengarkan ayat ini...50. 22. Sesungguhnya kamu berada dalam keadaan lalai dari (hal) ini, maka Kami singkapkan daripadamu tutup (yang menutupi) matamu, maka penglihatanmu pada hari itu amat tajam.   (QS. Qaaf [50] : 22)
 
Kajian [1239 Reads] Send this story to someone Printer-friendly page
Ancaman Terhadap Organisasi Pergerakan Islam (Bagian ke-2): Munafik yang Membenci
Posted by: Admin on Monday, February 18, 2008 - 08:47

Hudzaifah.org - "Orang mukmin senantiasa berada di antara lima ancaman berat, yaitu mukmin yang mendengkinya, munafik yang membencinya, kafir yang memeranginya, syetan yang menyesatkannya, dan nafsu yang melawannya." (Hadits ini dikeluarkan oleh Abu Bakar bin Lai dari Hadits Ana dalam Makarim Al-Akhlak).

2. Munafik yang Membenci

Rintangan yang berat lainnya datang dari kaum munafikin yang di permulaan surat Al-Baqarah dijelaskan lebih gamblang dan lebih panjang lebar ketimbang orang-orang kafir. Ini menegaskan bahwa bahaya yang ditimbulkan oleh orang-orang munafik lebih hebat dibanding orang-orang kafir, karena mereka merupakan musuh dalam selimut, pagar makan tanaman, dan menggunting dalam lipatan.

Beragam motivasi yang melatarbelakangi munculnya orang-orang munafik. Ada yang menginginkan harta, kedudukan, pangkat, dan jabatan. Dan dalam mencapai tujuannya itu, sedikitnya ada tiga jurus yang dilakukannya, yaitu berdusta, ingkar janji, dan berkhianat (tidak amanah).

Pada masa Rasulullah SAW, peristiwa haditsul ifki adalah salah satu contoh terbesar yang dilakukan orang-orang munafik untuk memecah belah umat Islam. Pada kisah itu diceritakan, Aisyah RA ikut bersama Rasulullah SAW dalam perang Musthaliq. Ketika rombongan kaum muslimin berhenti, Aisyah keluar untuk buang hajat. Setelah selesai ia kembali ke dalam kendaraannya, dan di sana ia baru menyadari bahwa kalungnya telah hilang. Maka ia kembali ke tempat buang hajat untuk mencari kalungnya. Kepergian Aisyah yang kedua ini tidak disadari oleh anggota rombongan. Akhirnya mereka berangkat membawa kendaraan khas milik Aisyah dengan anggapan beliau ada di dalamnya. Karenanya ketika Aisyah kembali ke tempat perhentian rombongan, Aisyah tak menemukan seorang pun di sana. Beliau pun duduk menunggu dengan harapan jika rombongan sadar bahwa dia tidak ada di dalamnya pasti mereka akan kembali untuk mencarinya. Karena mengantuk, Aisyah tertidur. Beliau baru sadar ketika Shafwan bin Mu'aththal berkata, "Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un istri Rasulullah SAW!" Shafwan adalah anggota pasukan yang tertinggal rombongan.

Setelah mengetahui dengan pasti bahwa yang tertinggal itu adalah istri Rasulullah SAW, Shafwan pun merendahkan untanya dan mendekatkannya kepada Aisyah tanpa mengeluarkan satu kata pun. Aisyah menaiki unta itu, lalu Shafwan menuntunnya hingga bertemu dengan rombongan Rasulullah SAW yang sedang beristirahat di Nahru Azh-Zhahirah.

Ketika rombongan melihat peristwa ini, masing-masing dari mereka bergumam dan membicarakannya. Saat itulah seorang munafik bernama Abdullah bin Ubay bin Salul melihat peluang untuk melepaskan dendam dan kebenciannya kepada Rasulullah SAW. Ia pun mulai menyebarkan cerita-cerita dusta di sekitar peristiwa itu. Dan ketika mereka pulang ke Madinah, cerita dusta iu cepat menyebar dan menjadi bahan pembicaraan orang. Menghadapi peristiwa ini, Rasulullah SAW hanya diam, beliau menunggu penjelasan dari Allah SWT. Cobaan ini amat berat bagi Rasulullah, apalagi selama sebulan sejak peristiwa itu, wahyu yang ditunggu-tunggu belum juga turun. Sampai Allah SWT menurunkan ayat 11-18 surat An-Nur untuk membuka kedok orang-orang munafik:

"Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong adalah dari golongan kamu juga. Janganlah kamu kira berita bohong itu buruk bagimu, bahkan ia adalah baik bagimu.

Tiap-tiap orang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya. Dan siapa saja di antara mereka yang mengambil bagian terbesar dalam penyiaran berita bohong itu, baginya siksa yang besar.

Mengapa di waktu kamu mendengar berita bohong itu orang-orang mukmin dan mukminat tidak berprasangka baik terhadap diri mereka sendiri, dan mengapa tidak berkata, 'Ini adalah berita bohong yang nyata.'

Mengapa mereka yang menuduh itu tidak mendatangkan empat orang saksi atas berita bohong itu? Lantaran mereka tidak mendatangkan saksi-saksi, mereka itulah pada sisi Allah orang-orang yang dusta.

Sekiranya tidak ada karunia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu semua di dunia dan di akhirat, niscaya kamu ditimpa yang besar, karena pembicaraan kamu tentang berita bohong itu dari mulut ke mulut dan kamu katakan dari mulutmu apa yang tidak kamu ketahui sedikit pun juga, dan kamu menganggapnya suatu yang ringan saja. Padahal dia di sisi Allah adalah besar.

Dan mengapa kamu tidak berkata di waktu mendengar berita bohong itu, 'Sekali-kali tidaklah pantas bagi kita membicarakan ini. Maha Suci Engkau (wahai Allah), ini adalah dusta yang besar.' Allah memperingatkan kamu agar jangan kembali melakukan yang seperti itu selama-lamanya jika kamu orang-orang yang beriman, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana."
(QS. An Nur: 11-18).


Pada akhir ayat tersebut Allah SWT menegaskan bahwa peristiwa haditsul ifki yang cukup membuat repot barisan umat Islam harus dijadikan pelajaran. Umat Islam harus waspada terhadap gerak langkah dan tipu muslihat orang-orang munafik yang memang sulit dideteksi. Tentu saja pengkhianatan yang dilakukan orang-orang munafik itu terulang pada masa-masa berikutnya. Kalaulah tidak karena adanya segelintir manusia dari golongan munafikin yang menjual dirinya kepada rezim yang zalim, atau kalaulah tidak karena adanya para pembelot yang menjual ayat-ayat Allah dengan harga yang murah, niscaya gerakan Islam pada masa kini tidak akan mengalami berbagai krisis dan fitnah yang berat. Aktifis-aktifisnya tidak akan mengalami penyiksaan dan pukulan berat dari penguasa yang zalim dan kejam. Namun, di balik itu semua, ujian dan cobaan yang menimpa orang-orang yang beriman dijadikan Allah sebagai alat untuk menyeleksi dan membersihkan jamaah kaum muslimin dari orang-orang yang akan menjadi ganjalan perjalanan gerakan Islam di kemudian hari.

"Jika kamu bersabar dan bertakwa, niscaya tipu daya mereka sedikitpun tidak akan mendatangkan kemudharatan kepadamu. Sesungguhnya Allah Mengetahui segala apa yang mereka kerjakan." (QS. Ali Imran: 120).

Namun, tentu saja hal itu bukan berarti para aktifis pergerakan Islam membiarkan saja perbuatan-perbuatan mereka tanpa berusaha menyadarkannya.

"Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu." (QS. Al-Hujarat: 6).

Tidak diragukan lagi bahaya yang ditimbulkan kaum munafik lebih besar dibanding bahaya kaum kafir. Sebab mereka berada di tengah-tengah kaum muslimin, mereka mengetahui rahasia kaum muslimin dan menyebarkannya kepada musuh-musuh Islam baik Yahudi maupun Nasrani. Kendati prinsip yang dipegang Rasulullah SAW terhadap mereka adalah menerima apa yang tampak dan menyerahkan kepada Allah segala apa yang tersembunyi, tetapi Rasulullah SAW tidak pernah sekalipun memberikan amanah berupa tugas penting kepada orang-orang yang ditengarai memiliki sifat munafik, seperti Abdullah bin Ubay bin Salul, Nabtal bin Harats, Amir bin Qais, Rafi' bin Wadi'ah, atau Murabba bin Qaizhi.

(Bersambung, bagian ke-3: Kafir yang Memerangi)
Send this story to someone Printer-friendly page
 
Related links 
· More about Da'wah dan Jihad
· News by Admin


Most-read story in Da'wah dan Jihad:
Definisi Dasar dan Tujuan Dakwah Kampus



Pesan Singkat


Hanya yang sudah login yang dapat mengisi pesan singkat 

Ancaman Terhadap Organisasi Pergerakan Islam (Bagian ke-2): Munafik yang Membenci | Log-in or register a new user account | 0 Comments
Comments are statements made by the person that posted them.
They do not necessarily represent the opinions of the site editor.



Hudzaifah.org
Tampilan terbaik pada resolusi 1024 x 768
You can log-in or register for a user account here.

Hudzaifah.org, since January 2003 - about - contact - powered by Postnuke
Tidak dilarang menyebarluaskan artikel2 di situs ini dengan menyebutkan sumbernya