|
|
|
| Pernik |
[345 Reads]  |
|
Pahlawan Berkostum Orange |
Posted by: didit on Saturday, June 14, 2008 - 06:36
|
Hudzaifah.org - Pagi itu aku melintas di jalan MT. Haryono menuju kampus untuk meliput sebuah acara seminar, Islam dan 10 Tahun Reformasi. Ketika mendekat ke lampu merah Pancoran, ada sesosok ibu tua tengah berada di tepi jalan, bermodalkan seragam berwarna orange, dibantu dengan sapu yang ada di tangannya, debu dan kotoran di jalan raya itu disapunya. Sesekali ia harus menghentikan aktivitasnya karena banyak motor yang mengambil sisi jalan tempat ia sedang bekerja.
Sepanjang jalan Kuningan hingga Grogol aku melihat lebih dari lima orang berseragam orange yang tengah bekerja membersihkan jalan raya, bahkan di dekat kampusku, di jalan S. Parman ada sesosok lelaki tengah menyapu di lajur Busway yang sudah tidak dipergunakan oleh kendaraan Transjakarta. Banyak mobil dan motor yang melaju dilajur tersebut, dan hal ini diperparah karena lajur tersebut tidaklah terlalu lebar dan umumnya pengendara yang berada di lajur tersebut mengemudikan kendaraannya dengan cepat, sehingga membuat lelaki tersebut kesulitan untuk membersihkan kotoran dari jalan raya tersebut. Bahkan aku sempat mengumpat seorang pengendara motor yang dengan seenak hatinya mengemudikan motor dilajur tersebut dengan kencang dan hampir-hampir membahayakan sang pahlawan berseragam orange tersebut.
Bagaimana tidak, di lajur yang sempit motor tersebut menyalip disisi kiri mobil dan hampir menabrak penyapu jalan tersebut, sedangkan dari tadi aku sendiri dan sebuah motor lainnya, berusaha sabar untuk tetap berada di belakang mobil agar tidak mengganggu pekerjaan lelaki tersebut.
Rasa geramku terhadap pengemudi motor tadi membuat aku merenungi pekerjaan mereka, penyapu jalan dengan seragam orange tersebut. Aku teringat ketika beberapa waktu lalu aku keluar rumah selepas adzan subuh mereka sudah berada di jalan membersihkan jalan dari kotoran-kotoran yang ada di jalan. Ketika sore menuju jalan pulang pun sepanjang jalan Grogol hingga Cawang sosok-sosok berseragam orange masih saja bekerja, di satu sisi para pekerja kantoran sudah meninggalkan kantornya.
Terpikir olehku pernahkah mereka para penyapu jalan itu memikirkan keselamatan diri mereka? Seperti tadi ada motor yang hampir menabraknya, atau pernah kah mereka berpikir berapa banyak karbondioksida yang telah mereka hirup? Pernahkah mereka memeriksakan kesehatan paru-paru mereka ke rumah sakit? Pernahkan mereka berpikir bagaimana sinar ultraviolet akan membakar kulit mereka? Jawabannya sepertinya hanya satu, tidak. Karena kalau mereka berpikir seperti aku maka dapat dipastikan tidak dapat kutemui orang-orang hebat berbaju orange itu sekarang ini.
Berpikir tentang pekerjaan mereka membuat aku malu, terlebih melihat pengorbanan yang mereka lakukan dan yang paling membuat aku seperti tak berarti adalah usia mereka, yang umumnya sudah lanjut! Mereka harus bangun ketika orang-orang masih terlelap tidur, menyiapkan kebutuhan keluarga mereka, tiba di tempat kerja (jalan raya) ketika masih baru sebagian orang tersadarkan dari mimpi kosongnya. Ketika sudah ramai kendaraan melintas di jalan-jalan ibu kota, pekerjaan tetap mereka lakukan hingga senja menyapa.
Di satu sisi banyak orang-orang yang mengaku intelek tetapi pengorbanannya yang tak sebesar penyapu jalan itu merasa sudah berbuat banyak. Ambil contoh para pejabat Negara, mereka berangkat ketika matahari sudah meninggi belum lagi ada pengawalan dari polisi yang membuat perjalanan mereka lancar, tiba di kantor sejuknya hembusan ruangan kantor telah menyapa ditambah hangatnya teh yang sudah terletak di atas meja. Sorenya ketika jam bekerja belum usai mereka sudah meninggalkan kantor menuju rumah, duduk nyaman didalam mobil dengan AC yang meniadakan kegerahan dan alunan musik klasik menemani sepanjang perjalanan pulang.
Kontras memang, gaji para pejabat itu besar dengan fasilitas mewah, sedangkan para penyapu jalan itu, jangankan untuk berbicara soal fasilitas mewah, gaji mereka saja jika dihitung perbulannya tidak lebih banyak dibandingkan dengan uang membeli bensin tiap bulan mahasiswa yang ke kampus menggunakan mobil.
Tapi orang-orang itu tidak pernah berpikir betapa berjasanya penyapu jalan itu kepada mereka yang ada justru mereka mengabaikannya. Coba kita renungkan bersama-sama apa jadinya jalanan ibu kota ini jika tidak ada penyapu jalan, berapa banyak debu bertumpuk di jalan-jalan, sampah-sampah berserakan di jalan dan pastinya hal itu akan berdampak pada kelancaran dan kenyaman berlalulintas yang kita alami amat sangat terganggu. Hingga membuat semua aktivitas yang akan dilakukan tidak dapat dilaksanakan dengan baik.
Peristiwa di atas semoga dapat jadi bahan renungan bagi kita semua, kita yang diberikan kenikmatan oleh Allah sudah sepatutnya bersyukur kepadaNya. Pengorbanan yang kita alami belumlah sehebat para pahlawan berseragam orange itu. Kesia-sian yang kita lakukan selama ini haruslah kita telaah kembali jangan sampai kita terpuruk dengannya.
Bagimu para pahlawan di jalan raya, sungguh aku belum mampu membalas kebaikan kalian, bahkan aku lebih sering zhalim terhadap kalian, maafkanlah aku. Terima kasih atas pengorbanan kalian, semoga yang kalian lakukan dapat dijadikan hikmah untukku, Allah kelak yang akan membalasnya untuk kalian.
Wallahu ‘alam bisssawab, hamba yang fakir.
|
| |
|
| Pahlawan Berkostum Orange | Log-in or register a new user account | 0 Comments |
|
| Comments are statements made by the person that posted them. They do not necessarily represent the opinions of the site editor. |
|