Welcome Guest : : Register Lost Password Log-in : :

Janganlah kalian kembali kepada kekafiran setelahku, (yang mana) sebagian kalian menampar wajah sebagian yang lain.

-- Hadits
Dengarkan ayat ini...10. 98. Dan mengapa tidak ada (penduduk) suatu kota yang beriman, lalu imannya itu bermanfa'at kepadanya selain kaum Yunus? Tatkala mereka (kaum Yunus itu), beriman, Kami hilangkan dari mereka azab yang menghinakan dalam kehidupan dunia, dan Kami beri kesenangan kepada mereka sampai kepada waktu yang tertentu.   (QS. Yunus [10] : 98)
Post new topic   Reply to topic
View previous topic Printable version Log in to check your private messages View next topic
Author Message
anugerah_wOffline
 Post subject: Korupsi PostPosted: Dec 08, 2006 - 09:30 PM
Member Aktif I


Joined: 21-10-04
Posts: 343
Location: Bogor
Status: Offline
9 Desember, Hari Anti Korupsi se-Dunia Wink
Tahun 2005, tapi masih cukup relevan




Barometer Korupsi Global 2005
Polling Transparency International mengungkapkan kecemasan masyarakat terhadap korupsi

Berlin 9 Desember 2005 – Barometer Korupsi Global 2005, survei yang dilakukan oleh Gallup International atas nama Transparency International untuk menyambut Hari Anti-Korupsi Sedunia tahun 2005 ini mengungkapkan keprihatinan masyarakat internasional terhadap tingkat korupsi berbagai negara di dunia.

“Survei tahun ini menunjukan kepada kita bahwa masyarakat memercayai korupsi telah tertanam kuat di negara mereka.” Ujar Huguette Labelle, Ketua Transparency International. “ Jika seorang ibu muda yang miskin percaya bahwa para penyelenggara pemerintahan negaranya lebih mendahulukan kepentingan pribadi mereka dari pada hak-hak dasar anaknya, atau untuk mendapatkan pelayanan publik seperti layanan kesehatan pokok untuk anak-anak pun mereka masih dibebani pungutan-pungutan liar, maka harapan ibu tersebut terhadap masa depan anaknya semakin memudar. Tetapi korupsi yang telah tertanam dengan kuat tersebut dapat dibasmi jika semua orang bersatu untuk mewujudkan sistem yang dapat memudahkan pelayan masyarakat (public service).”

Pengalaman suap yang dilakukan oleh perorangan

Barometer Korupsi Global 2005 menunjukan bahwa dampak korupsi terhadap kehidupan pribadi dan keluarga paling berat dialami oleh keluarga miskin. Selain itu, masyarakat di negara-negara berpenghasilan rendah harus menyisihkan penghasilannya untuk melakukan suap. Jumlah tersebut lebih besar dari yang dilakukan oleh masyarakat di negara-negara yang berpenghasilan lebih tinggi jika dihitung prosentasenya dari pendapatan mereka.

Pandangan masyarakat internasional tentang korupsi

Sekitar 55.000 orang dari 69 negara telah dimintai pendapatnya dari bulan Mei hingga Oktober 2005 sebagai bagian dari survei the Gallup International Voice of the People 2005 untuk mengetahui pendapat mereka tentang korupsi.

-Ketika ditanya tingkat korupsi selama tiga tahun terakhir, masyarakat di 48 negara dari 69 negara berpendapat bahwa korupsi meningkat.

-Di enam negara, masyarakatnya menilai bahwa tingkat korupsi di negaranya menurun selama tiga tahun terakhir. Keenam negara tersebut adalah Colombia, Georgia, Indonesia, Hong Kong, Kenya, dan Singapore.

-Di 13 negara – Bolivia, Costa Rica, Republik Dominica, Equador, India, Israel, Nicaragua, Nigeria, Panama, Paraguay, Peru, Philippines, dan Venezuela – lebih dari 50 persen responden menilai korupsi di negaranya telah meningkat tajam dalam periode ini.

Responden di negara-negara Afrika dan Amerika Latin paling pesimistik dengan tingkat korupsi di negeranya dalam 3 tahun terakhir.

Harapan untuk tiga tahun mendatang, gambarannya agak menggembirakan

-Di 12 negara, responden secara keseluruhan mengharapkan tingkat korupsi menurun, responden Indonesia paling optimistik dalam hal ini (terdapat 63% responden yang mengharapkan tingkat korupsi menurun tajam).

-Negara-negara yang respondennya paling optimistik menurut survei ini adalah: Indonesia, Kosovo, Nigeria, dan Uruguay.

-Responden di 34 negara sangat pesimistik tentang tingkat korupsi di masa mendatang.

-Negara-negara yang respondennya paling pesimistik adalah: Costa Rica, Equador, India, Nicaragua, dan Philipina

-Dari perspektif regional, Afrika menonjol sebagai wilayah yang respondennya relatif optimistik.


“Seperti penyakit yang mengerikan, korupsi sering dapat diprediksi, dicegah, dan diobati,” ucap David Nussbaum, Kepala Eksekutif Transparency International. “Barometer Korupsi global menawarkan diagnosa kasar, namun penanganan efektifnya tergantung pada masing-masing negara. Pembaruan hukun seperti undang-undang dan konvensi anti-korupsi sedang diajukan. Banyak perusahaan menawarkan berbagai program anti-korupsi. Dunia sekarang sedang berbalik menentang tindakan-tindakan korup.”

Perspektif regional

Eropa Tengah, Eropa Timur, dan Asia Tengah


Responden di Kosovo, Ukraina, dan Romania paling optimistik, dengan sedikitnya sepertiga responden percaya bahwa situasi akan membaik.

Masyarakat di Bosnia Herzegovina dan Rusia lebih pesimistik, secara berturut-turut 40 dan 50 persen responden di kedua negara tersebut memiliki pandangan yang negatif tentang masa depan mereka.

Amerika Latin

Separuh responden di lima negara – Kosta Rica, Equador, Mexico, Nicaragua, dan Venezuela – merasa pesimistik tentang masa depan, mereka percaya korupsi akan meningkat di negara mereka. Nikaragua merupakan negara yang masyarakatnya paling pesimistik, lebih dari 60% respondennya percaya bahwa situasi mendatang akan jauh lebih buruk.

Responden dari Cili, Colombia, dan terutama Uruguay sangat postif pandangannya tentang masa depan negara mereka.

Afrika

Dari 8 negara Afrika yang disurvei dalam barometer ini, lima negara memperlihatkan pandangan yang optimistik, terutama Nigeria dan Ethiopia, dimana sekitar separuh responden yang disurvei merasa korupsi akan menurun dalam tiga tahun mendatang.

Asia

Sementara masyarakat di Philipina dan India menyatakan kecemasan yang mendalam tentang tingkat korupsi di negara mereka dalam tiga tahun mendatang dengan sekitar 60 persen responden yang percaya bahwa situasi akan semakin memburuk, masyarakat di Indonesia menunjukan kebalikannya. Mereka lebih optimistik dari tahun lalu, yakni terdapat 63 persen responden yang mengharapkan perbaikan berarti.

Negara-negara yang pesimistik maupun optimistik tentang tingkat korupsi dalam tiga tahun belakangan ini cenderung memiliki pandangan yang sama untuk tiga tahun mendatang.

-Di Amerika Serikat dan Jerman, secara berturut-turut 65 persen dan 66 persen dari responden yang disurvei percaya bahwa korupsi semakin memburuk dalam tiga tahun terakhir ini. Sebanyak 56 persen dan 57 persen responden di Amerika serikat dan Jerman berpendapat bahwa kondisi ini akan terus berlanjut dalam tahun-tahun mendatang.

-Menurut 48 persen responden Kenya, korupsi selama tiga tahun terakhir ini telah menurun, dan 43 persen respondennya percaya bahwa korupsi akan terus menurun dalam tiga tahun mendatang.

-Hal yang sama dengan pendapat responden Kenya juga terjadi di beberapa negara, seperti di Colombia, Indonesia, dan Turki.

Akan tetapi ada beberapa negara yang respondennya memiliki pandangan yang berbanding terbalik antara harapan 3 tahun mendatang dengan 3 tahun terakhir ini. Untuk tiga tahun mendatang publik di Ethiopia , Nigeria, Ghana, Kosovo, Macedonia, dan Uruguay terlihat lebih optimistik dari 3 tahun terakhir.

Di beberapa negara, rasa pesimisme dari masyarakatnya bisa jadi menunjukan kemajuan atau keberhasilan kampanye tentang korupsi. Melalui gerakan ini, masyarakat menjadi lebih sadar akan informasi yang berkaitan dengan korupsi. Di lain hal pesimisme ini mungkin disebabkan oleh tidak adanya kemauan politk untuk memberantas korupsi, atau juga kurang efektif dalam pemberantasannya. Kurangnya informasi yang memadai tentang upaya-upaya pemberantasan yang sedang dilakukan akan menyurutkan dukungan publik terhadap pemerintah dan pihak lain yang sedang memberantas suap dan korupsi.

Seberapa banyak suap terjad?

Kelaziman prilaku suap di beberapa negara sangat bervariasi. Di negara-negara yang berpenghasilan tinggi, jumlah keluarga yang melakukan suap dalam satu tahun terakhir sangat kecil prosentasenya.Sementara itu rekan-rekan mereka di negara-negara yang terletak di kawasan Eropa Timur, Afrika, dan Amerika latin sangat banyak yang melakukan suap dalam dua belas bulan terakhir ini.

Table: Negara dan kelaziman suap
Question : Dalam 12 bulan terakhir, apakah Anda atau anggota keluarga Anda telah melakukan suap
dalam bentuk apapun?
Answer: Yes

31% - 50% Kamerun, Paraguay, Cambodia, Mexico

11% - 30% Ethiopia, Ghana, Guatemala, Lithuania, Moldova, Nigeria, Rumania, Togo, Bolivia, Republik Czech, Republik Dominika, Ekuador, Yunani, Indonesia, India, Kenya, Pakistan, Peru, Rusia, Senegal, Serbia, Ukraina

5% - 10% Argentina, Bulgaria, Bosnia dan Herzegovina, Colombia, Kroasia, Kosovo, Luxemburg, Masedonia, Malaysia, Nicaragua, Panama, Philipina, Polandia, Afrika Selatan, Thailand, Turki, Venezuela.

Kurang dari 5% Austria, Kanada, Kosta Rika, Denmark, Spanyol, Finlandia, Prancis, Jerman, Hong Kong, Islandia, Irlandia, Uruguay, dan Amerika Serikat

Sumber: Transparency International Global Corruption Barometer 2005

Berdasarkan survei ini, Negara-negara yang tingkat suapnya tertinggi berasal dari Amerika Latin (Guatemla, Meksiko, Paraguay), Afrika (Kamerun, Ethiopia, Ghana, Nigeria, dan Togo), Eropa Tengah dan Timur (Lithuania, Moldova, dan Rumania), dan Asia (Kamboja), dengan sedikitnya seperlima responden yang menyatakan keluarga mereka melakukan suap dalam setahun terakhir ini.

Negara-negara miskin melakukan suap lebih besar

Pendapatan per kapita dan daya beli tiap-tiap negara yang disurvei sangat beragam, artinya pengaruh ekonomi perorangan dan keluarga terhadap suap berbeda antara satu negara dan negara lainnya. Barometer ini memasukan perkiraan responden terhadap biaya suap di 19 negara. Dari data yang terkumpul, terungkap bahwa jumlah prosentase yang harus disisihkan dari pendapatannya oleh para keluarga/ rumah tangga di Afrika lebih tinggi dari rekan-rekannya di kawasan lain.

-Para keluarga di Kamerun, Ghana, dan Nigeria tampaknya sangat menderita karena uang yang harus mereka sisihkan dari pendapatan mereka untuk melakukan suap sangat tinggi, antara seperlima hingga sepertiga dari pendapatan perkapita mereka.

-Para keluarga atau rumah tangga di India, Kenya, Moldova, Togo, dan Ukraina harus menyisihkan 10 sampai 20 persen pendapatannya untuk membayar suap.

Table: Tingkat suap dibandingkan dengan GDP/kapita
Jumlah rata-rata uang yang dikeluarkan untuk melakukan suap per rumah tangga/keluarga dalam setahun, yang merupakan prosentase dari GDP perkapita (2003)

20% Kamerun, Ghana, Nigeria

10% - 20% India, Kenya, Moldova, Togo, Ukraina

10% Bolivia, Republik Dominika, Guatemla, Lithuania, Meksiko, Pakistan, Paraguay, Peru, Rumania, Rusia, Serbia

Sumber: Transparency International Global Corruption Barometer 2005

Menurut penilaian survei ini jumlah rata-rata suap yang dibayarkan per rumah tangga atau keluarga per tahunnya sangat bervariasi dari yang terendah US$ 36 di Paraguay hingga US$ 205 di Kamerun. Perbedaan jumlah ini dapat terlihat di beberapa negara dalam satu kawasan yang sama, namun kondisi ekonominya berbeda. Di beberapa Negara, biaya suap bisa lebih kecil, namun dilakukan dalam frekuensi yang lebih tinggi. Di beberapa negara lain suap jarang dilakukan, namun jumlah uang yang harus dikeluarkan untuk sekali melakukan suap sangat besar.

Tabel: Jumlah uang yang dikeluarkan untuk melakukan suap

Jumlah yang dikeluarkan untuk suap selama 12 bulan terakhir
Jumlah nominal dalam Dolar Amerika Daya beli dalam USD
Bolivia 66 190
Kamerun 205 560
Republik Domnika 76 274
Ghana 181 1095
Guatemla 147 303
India 102 523
Kenya 50 114
Lithuania 195 432
Meksiko 111 166
Moldova 86 280
Nigeria 114 280
Pakistan 45 169
Paraguay 36 158
Peru 69 164
Rumania 56 154
Rusia 129 393
Serbia 171 No data
Togo 46 216
Ukraina 160 860

Sumber: Transparency International Global Corruption Barometer 2005 and World Bank Development Indicators Online, http://publications.worldbank.org/WDI/.

Kenapa orang melakukan suap?

Transaksi suap biasanya dilakukan secara tersembunyi dan diam-diam. Pembayaran tak resmi dilakukan supaya si pelaku dapat memperoleh layanan atau perizinan yang lebih cepat, seperti izin atau lisensi usaha atau untuk mengatasi permasalahan yang muncul walaupun aparat tidak memintanya secara eksplisit.

-Di antara 20 negara yang disurvei, diketahui bahwa sebagian responden melakukan suap di Bolivia, Republik Dominika, Ethiopia, India, Meksiko, Nigeria, Paraguay, dan Peru yang mengakui bahwa mereka melakukan suap karena petugas atau aparat memang meminta uang mereka.

-Sekitar separuh dari pelaku suap di Ghana, Moldova, dan Pakistan menyatakan hal yang sama.

-Akan tetapi sebagian responden yang melakukan suap di Lithuania, Rumania, Rusia, Serbia, dan Ukraina menyatakan bahwa mereka memang menawarkan suap untuk mendapatkan “public service” yang memang menjadi hak mereka.

-Permintaan suap secara tersamar tidak lebih baik dari pungutan liar yang dilakukan secara terbuka, terutama jika Anda menolak berarti Anda tidak bisa mendapatkan obat yang sedang Anda butuhkan untuk menyelamatkan hidup Anda,” ujar Huguette Labelle.

Korupsi terjadi di banyak sektor kehidupan: sekali lagi, sektor politik menempati urutan teratas

Di berbagai sektor yang memiliki pengaruh besar dalam kehidupan sehari-hari, Barometer Korupsi Global 2005 menyatakan bahwa korupsi terus merusak kehidupan sehari-hari masyarakat di berbagai belahan dunia dan mengurangi kemampuan mereka dalam pemenuhan hak dan kebutuhan dasar mereka.

Selama dua tahun, partai politik dianggap sebagai sektor yang paling korup. Barometer tahun ini mengungkapkan 45 dari 69 negara yang disurvei menempatkan partai politik pada urutan teratas di antara sektor-sektor kehidupan yang dianggap korup. Partai politik memperoleh poin 4 dengan skala 1 hingga 5, di mana poin 5 mewakili kriteria “sangat korup.” Korupsi di sektor politik menjadi keprihatinan utama para responden. Tempat kedua dan ketiga ditempati oleh parlemen (3.7) dan kepolisian (3.6).

“Ikan mulai membusuk dari kepalanya.” Kata David Nussbaum. “Jika suatu pemerintahan korup pada level atas, kekuasaan untuk melakukan pembaruan mendasar jelas tergantung pada orang-orang korup ini.”

Gambar: Sektor dan lembaga yang paling banyak dipengaruhi korupsi




Sumber: Transparency International Global Corruption Barometer 2005

Tiga perempat responden menyatakan bahwa kehidupan politik di negara mereka dipengaruhi oleh korupsi hingga tingkat yang sangat mengkhawatirkan.

Di antara negara-negara yang ber-income tinggi, warga negara Prancis, Itali, Yunani, Jepang, Israel, dan Taiwan sangat meragukan integritas partai politik yang ada di negara mereka.

Responden dari negara-negara yang incomenya sedikiit di atas menengah seperti Meksiko, Panama, Argentina, dan Kosta Rika memiliki kecemasan yang sama, begitu juga negara-negara yang incomenya sedikit di bawah menengah seperti Bolivia, Equador, dan Paraguay.

Tidak di semua negara, partai politik dianggap paling korup

-Di beberapa negara Eropa Tengah dan Eropa Timur, termasuk Bulgaria, Kosovo, Moldova, Rumania, Serbia, dan Ukraina Bea Cukai dianggap paling korup.

-Di Afrika (Kameron, Ghana, Kenya, Nigeria, Senegal, dan Afrika Selatan) dan Amerika Latin (Republik Dominika, Guatemala, Meksiko, Peru, dan Venezuela) polisi dan pengadilan dianggap paling korup.

-Di beberapa negara yang tingkat penghasilannya tinggi, termasuk Denmark, Belanda, dan Norwegia, sektor bisnis dan media dianggap paling korup.
-Publik Ethiopia dan Turki menganggap direktorat pajak paling korup di antara institusi lain. Para responden di beberapa negara-negara Asia dan Amerika Latin juga menunjukan kekhawatiran yang sama terhadap lembaga ini.

-Hanya responden di Kosovo yang menganggap sektor kesehatan sebagai sektor yang paling korup. Responden dari negara-negara lainnya di kawasan yang sama seperti Bulgaria, Moldova, Polandia, Serbia, dan Ukraina juga menganggap direktorat pajak sangat korup. Begitu juga dengan responden di Kamerunm India, Nikaragua, Pakistan, Turki.

Table: Sektor yang paling korup berdasarkan kawasan

ASIA (12 negara) Partai politik 4,2 Parlemen/ DPR 3,9 Polisi 3,9
Pajak 3,5
AFRIKA (8 negara) Polisi 4,4
Partai politik 4,2 Bea Cukai 4,0 Parlemen/ DPR 3,8
EROPA BARAT (16 negara)
Partai politik 3,7 Parlemen/ DPR 3,3 Sektor bisnis 3,3 Media 3,3
EROPA TENGAH (14 negara)
Partai politik 4,0 Polisi 4,0 Parlemen/DPR3,9 Pengadilan 3,9
AMERIKA LATIN (15 negara) Partai politik 4,5 Parlemen/ DPR 4,4 Polisi 4,3 Pengadilan 4,3

Sumber: Transparency International Global Corruption Barometer 2005

Mengapa survei ini perlu dilakukan?

Hasil survei ini memberikan pijakan dasar bagi pemerintahan negara-negara di seluruh dunia, lembaga internasional, LSM, dan para perorangan, seperti peneliti untuk melakukan perencanaan maupun penyusunan strategi dalam upaya pemberantasan dan pencegahan korupsi. Pengetahuan tentang pengalaman dan persepsi orang tentang korupsi sangat vital bagi perencanaan pemberantasan korupsi. Dengan membuat rangking sektor-sektor dan lembaga negara yang paling korup, barometer ini dapat menjadi katalisator untuk perubahan. Persepsi masyarakat tentang meluasnya korupsi dari waktu ke waktu dapat menjadi alat bantu yang penting untuk mengukur keberhasilan jangka panjang kebijakan anti-korupsi yang ditetapkan dan dijalankan pemerintah.

Kemajuan-kemajuan yang berarti telah dicapai melalui upaya-upaya bersama di antara negara-negara di dunia ini seperti Konvensi PBB Melalawan Korupsi yang telah diadpsi pada Hari Anti-Korupsi Sedunia, 9 Desember oleh Majelis Umum PBB. Konvensi ini ditandatangani oleh 137 negara dan telah diratifikasi di 37 negara. Konvensi ini mulai berlaku pada tanggal 14 Desember 2005.

Melalui berbagai kegiatannya, Transparency International telah berhasil mengangkat isu korupsi pada agenda dunia dan berhasil meningkatkan kesadaran masyarakat di seluruh dunia terhadap isu ini. Berbeda dengan Indeks Persepsi Korupsi, yang merupakan kompilasi berbagai survey yang mengukur persepsi kalangan bisnis dan analis tentang korupsi, Barometer Korupsi Global mengungkapkan tingkat kehidupan dan pandangan mereka yang terkena dampak korupsi. Survey tahun ini memasukan beberapa negara yang sebelumnya tidak disurvei seperti Kamboja, Ethiopia, Paraguay, Serbia, Thailand, dan Togo.

Sumber : http://www.ti.or.id/news/details.php?newsID=443

_________________
Aku hanyalah apa yang diberikan Allah SWT padaku...

www.Indojilbab.com
 
 View user's profile Send private message Send e-mail Visit poster's website Yahoo Messenger  
Reply with quote Back to top
Display posts from previous:     
Jump to:  
All times are GMT + 7 Hours
Post new topic   Reply to topic
View previous topic Printable version Log in to check your private messages View next topic
Powered by PNphpBB2 © 2003-2004 The PNphpBB Group
Credits



Hudzaifah.org
Tampilan terbaik pada resolusi 1024 x 768
You can log-in or register for a user account here.

Hudzaifah.org, since January 2003 - about - contact - powered by Postnuke
Tidak dilarang menyebarluaskan artikel2 di situs ini dengan menyebutkan sumbernya