Welcome Guest : : Register Lost Password Log-in : :

Barangsiapa membelanjakan infaqnya di jalan Allah maka akan dicatat baginya tujuh ratus kali lipat.

-- HR. At Tirmidzi
Dengarkan ayat ini...37. 137. Dan sesungguhnya kamu (hai penduduk Mekah) benar-benar akan melalui (bekas-bekas) mereka di waktu pagi,   (QS. Ash-Shaaffat [37] : 137)
Post new topic   Reply to topic
View previous topic Printable version Log in to check your private messages View next topic
Author Message
abusafar
 Post subject: al-Isti’ab ad-Da’awy (Kapasitas Rekruitmen Dakwah) PostPosted: Feb 24, 2007 - 11:30 AM
Pemerhati


Joined: 06-11-04
Posts: 10

al-Isti’ab ad-Da’awy (Kapasitas Rekruitmen Dakwah)

Taujih ust. Musyaffa Abdurrahim, Lc.

Al Isti’ab diartikan sebagai kapasitas atau daya tampung bagi setiap Murabbi/Murabbiyah, ibarat sebuah gelas, maka jumlah air yang dapat ditampung oleh gelas itulah kapasitas dari gelas. Jika beban air yang diberikan melebihi kapasitasnya, maka air akan tumpah kemana-mana, sebagaimana seorang murabbi jika diberikan tanggungan yang melebihi kapasitasnya, maka dia tak akan mampu menanggungnya.Bila kita melihat adik kita yang masih TK semisal, kemudian kita minta dia untuk mengerjakan tugas praktikum kita, tentu dia tidak akan bisa mengerjakannya, sebaliknya, ’Pe eR’-nya dia tentu dengan sangat mudah dapat kita selesaikan. Inilah hubungan kapasitas dengan tuntutan, yang mana yang lebih besar? Kapasitas da’awi kita? Ataukah tuntutan dakwah yang ada?

Alhamdulillah manusia berbeda dengan gelas, kapasitas manusia dapat ditambah atau berkembang, bagaimana maningkatkan kapasitas da’awi para murabbi/yah ini adalah pokok bahasan taujih sang ustadz di sore hari yang diluar hujan ini.

Syaikh Mushthafa Masyhur Allahuyarham dalam sebuah bukunya, Thariqud Da’wah, bainal Asshalah wal Inkhiraf, menyatakan: “Kalau Tarbiyah tidak berjalan (ihtimam/ perhatian terhadap tarbiyah tidak berjalan) maka kader-kadernya akan menjadi duunal mustawa’ (dibawah level).” Maksud dari pernyataan Syaikh rahimahullah sebagaimana dijelaskan ustadz adalah pentingnya untuk memperbesar kapasitas seseorang dengan pintu tarbiyah. Peningkatan kapasitas ini dapat dibagi menjadi tiga hal:

1. al-Isti’ab ar-Ruuh
2. al-Isti’ab al-‘Ilmy
3. al-Isti’ab al-Haraky

al-Isti’ab ar-Ruuhy

Adalah peningkatan kapasitas kader terkait dengan spiritual. Pada dasarnya setiap manusia itu kosong seperti sebuah CD-blank, barulah kemudian akan ada blokiran dalam catatan hariannya untuk kegiatan-kegiatannya. Kenyataannya seringkali beberapa ikhwah mengatakan ”Pas masuk waktu duhur ndilalah ngetik belum selesai” (kata ustadz ndilalah yang bahasa jawa itu artinya “kok ya”, berasal dari bahasa arab: bi idznillah), padahal seharusnya yang terjadi adalah sebaliknya, kita blok terlebih dahulu waktu shalat kita, sediakan space dalam gelas kita untuk shalat 5 waktu dan tidak diisi oleh air. Maka insyaAllah kegiatan lain akan menyesuaikan waktu shalat kita itu, karena kita sudah memblokir space kapasitas ruhiyah kita dan air/ kegiatan lain akan mengisi sisanya.

al-Isti’ab al-‘Ilmy

Adalah peningkatan kapasitas kader terkait dengan keilmuan. Tuntutan dakwah bagi murabbi/yah sebenarnya sederhana, tuntutan itu adalah menyampaikan satu ayat. Jadi tidak ada kemudian istilah ”bentrok dakwah dan kuliah” atau bentrok ”dakwah, kuliah, nikah” semisal (he..). Karena satu ayat akan kita dapatkan dari salah satu kajian kemudian kita transfer kepada mutarabbi/yah kita, jika satu ayat telah tertransfer, tugas kita mencari satu ayat lagi untuk ditransfer. Tidak semua harus menjadi Lc (kata ustadz Lc ini kepanjangannya LuCu) dulu atau harus ngaji hadits dan menguasai hardisk dulu, sistemnya adalah cari satu ayat, berikan satu ayat, habis? Cari lagi, berikan lagi, begitu seterusnya. Jangan sampai materi itu hanya menumpuk dalam diri kita saja, nanti bisa jadi kolesterol materi. Jadi materi itu tetap harus disalurkan.

al-Isti’ab al-Haraky

Adalah peningkatan kapasitas kader terkait dengan pergerakan. Bagian terpenting dari pergerakan ini adalah wilayah dan jangkauan kita dalam berdakwah. Dicontohkan ketika da’wah Rasulullah dahulu, ikatan yang digunakan untuk menyebarkuaskan fikrah adalah keluarga dan kabilah, tetapi sekarang arena da’wah sangat luas, baik kos, organisasi, fakultas, kampus. Sangat penting untuk menyadari posisi kita dan memaksimalkan wilayah dakwah yang bisa kita cover.

Sesi tanya jawab,
Pertanyaan:

1. Bagaimana jika ada mutarabbi kita yang ngaji juga di harakah lain? Kita delete dari tim atau bagaimana? Atau kita larang untuk ngaji sembarangan.
2. Bagaimana jika mutarabbi kita lebih pintar dari kita?

Jawaban:

1. Prinsip kita adalah: ”Tidak boleh melarang orang untuk belajar.” Terus berusaha menunjukkan fikrah kita tetapi jangan sampai menjelekkan harakah lain. Seperti orang yang berdagang, maka kita harus bisa meyakinkan pembeli bahwa barang dagangan kita paling bagus tanpa menjelekkan barang dagangan orang lain. Justru diharapkan dengan banyak ngaji insyaAllah kapasitasnya akan bertambah. Pelarangan untuk belajar di harakah lain itu –kata ustadz- menunjukkan busuknya hati seseorang.
2. Posisikan diri bahwa sebenarnya Murabbi/yah dan Mutarabbi/yah sebenarnya adalah sama dan setingkat, hanya saja Murabbi dapat materi lebih dulu sehingga kita diharapkan bisa enjoy dengan mutarabbi sepintar apapun.

Wallahu a’lam bisshawab.
Rangkuman taujih beliau di IC Seturan, 14 April 2006/ 16 Rabi’ al-Awwal 1427H
Akhukum fillah, Imam Manggalya (Ketua BEM KU UGM 2006)

Sumber: http://ksai-aluswah.org/news.php?item.46

_________________
Tegakkan Islam di dadamu, maka ia akan tegak di muka bumimu.
 
 View user's profile Send private message  
Reply with quote Back to top
Display posts from previous:     
Jump to:  
All times are GMT + 7 Hours
Post new topic   Reply to topic
View previous topic Printable version Log in to check your private messages View next topic
Powered by PNphpBB2 © 2003-2004 The PNphpBB Group
Credits



Hudzaifah.org
Tampilan terbaik pada resolusi 1024 x 768
You can log-in or register for a user account here.

Hudzaifah.org, since January 2003 - about - contact - powered by Postnuke
Tidak dilarang menyebarluaskan artikel2 di situs ini dengan menyebutkan sumbernya