Welcome Guest : : Register Lost Password Log-in : :

Sesungguhnya, pada tubuhmu ada hak yang harus kamu penuhi.

-- Hadits
Dengarkan ayat ini...28. 42. Dan Kami ikutkanlah la'nat kepada mereka di dunia ini; dan pada hari kiamat mereka termasuk orang-orang yang dijauhkan (dari rahmat Allah).   (QS. Al Qashash [28] : 42)
Post new topic   Reply to topic
View previous topic Printable version Log in to check your private messages View next topic
Author Message
ummatOffline
 Post subject: Salah Sedekah PostPosted: Mar 07, 2010 - 11:45 AM
Pendatang Baru


Joined: 06-03-10
Posts: 4
Location: depan komputer
Status: Offline
Siang itu seperti biasa selepas sholat Jum’at beberapa murid ngaji ustadz temen ane mengumpulkan kotak infaq masjid untuk dihitung hasilnya. Di tengah asyik-asyiknya ngetung hasil infaq jum’at itu, tiba-tiba salah seorang pengurus masjid mendekati para penghitung infaq itu. Dia bilang :

“Anu, maap… tadi saya salah naruh uang infaqnya. Mau saya tuker dulu…. Tadi saya masukin uang limapuluh ribuan. Ini mau saya tuker yang duapuluh rebuan…” kata sesepuh sekaligus pengurus masjid itu pada para pemuda penghitung infaq. Confused

Para pemuda penghitung infaq itu saling berpandangan menahan tawa. Selepas si pengurus mesjid itu ngilang. Mereka serempak ngakak dengan perasaan tak habis pikir. Kok ya ada lho manusia jenis begini. Mau dilarang kok ya dia pengurus masjidnya. Lagian gak ada saksi apa benar dia masupin uang limapuluh ribuan, atau malah tadi cuma masukin seribuan. Ah sudahlah….. anggep saja dia jujur. NgakakNgakak

Begitulah watak dasar manusia. Untuk urusan infaq menginfaq atau shodaqoh, maka nilai limapuluh ribuan adalah angka mewah. Bahkan untuk ukuran sedekah jum’at pun itu masih termasuk dalam kategori hebat. Hanya mereka yang bergaji sekian digit yang dianggap mampu melakukan itu. Tapi apakah betul shodaqoh kita yang kita cemplungkan ke kotak infaq itu merupakan limit kemampuan kita untuk menyedekahkannya??

Di satu rombongan pengojek yang sebagian besar hidupnya setengah sengsara, ane pernah mendengar satu pembicaraan yang menarik untuk disimak. Sebut saja Kang Sastro Cagak, dia tengah bercerita perihal kejadian yang barusan menimpanya.

“Wah, sial bener hari ini aku. Lha penumpang baru dapet tiga sudah dicegat polisi. Lha mukmen (razia) kok gak bilang-nilang lho… edan tenan..!!” kata Kang Sastro Cagak geram. Pusing

“Kena berapa kang..?” tanya Kang Pawiro Slenthem.
“Polisinya minta seratus ribu… wah duite mbahe apa ya..!! Akhirnya cuma tak kasih lima puluh ribu. Ha kok ternyata polisinya mau..wuakakakakak.. Nggragas tenan jian… yo wis lah. Yang penting beres..” kata Kang Sastro Cagak tersenyum lebar menandakan kelegaannya.

Lihatlah dua contoh di atas! Pak pengurus masjid yang memasukkan uang lima puluh ribu rupiah ke kotak inpak itu merasa angka lima puluh ribu itu terlalu besar. Maka dia ralat angka shodakohnya dengan duapuluh ribu rupiah. Tapi si tukang ojek yang status ekonominya setengah sengsara itu, merasa plong dan lega kehilangan uang limapuluh ribunya. Padahal larinya duit si tukang ojek itu beraroma nyogok, sedangkan si pengurus mesjid itu nilainya sedekah.

Nggak tahu kenapa, saat duit kita mbablas angine di mal-mal, di gedung bioskop, di restoran-restoran, maka angka berapapun jarang kita sesali dan dianggep pantas untuk mbablas di situ. Namun di saat duit itu dipanggil oleh kotak sedekah, zakat, dan amal-amal sholeh lainnya, kita menganggap angka-angka yang besarnya sama dengan yang mbablas di mal-mal dan sejenisnya itu terlalu besar.

Padahal pada hakikatnya, harta kita yang sesungguhnya adalah yang kita belanjakan untuk amal kebaikan itu. Kalo yang hanya diniatkan buat makan, ujung muaranya adalah boker alias nongkrong di WC. Yang buat pakaian, ujung muaranya jadi gombal( kain bekas buat lap) Sedangkan yang ditumpuk-tumpuk di rekening Bank, ujung muaranya jatuh ke tangan ahli waris. Harta yang kita genggam adalah yang kita salurkan kepada amal sholeh yang diniatkan untuk mencari Ridho dari Gusti Allah yang telah memberi rejeki pada kita.

Untuk urusan sedekah, kita selalu merasa uang kita gak cukup buat sedekah. Apakah karena tidak mampu atau atau sebenarnya tidak mau, diri kitalah yang paling tahu. Satu ayat dalam Kitabullah menerangkan tingkat keparahan sifat kikir manusia :

“Katakanlah (wahai Muhammad), seandainya kalian menguasai khazanah perbendaharaan rahmat Tuhanku, maka kalian tentu akan menahannya (tak mau membagikannya) dikarenakan takut infaq. Dan adalah manusia itu sungguh amat kikir.” (S. Al Isra ayat 100)

Bahkan jika manusia menguasai seluruh harta di alam semesta ini, tetep saja kikir untuk mengeluarkannya. Maka sebenarnya tak ada satu alasan pun untuk tidak mengeluarkan sebgaian harta kita untuk berbagi dengan sesama yang diniatkan mencari ridho Illahi. Tidak usah nunggu kaya buat sedekah. Gak usah nunggu digit gajinya naik kalo mau berbagi. Saat ini pun semua bisa melakukannya. Yang dibutuhkan bukan kemampuan, namun kemauan. Karena yang kita keluarkan untuk sedekah dan berbagi itu sebenarnya pasti diganti, baik di dunia maupun di akherat.

Belum pernah ada ceritanya orang mlarat dikarenakan sedekah. Kalo cerita tentang orang yang mlarat karena kikir,..ya banyak…tumplek bleg. Maka janganlah pernah merasa bersalah karena telah bersedekah.
 
 View user's profile Send private message Visit poster's website  
Reply with quote Back to top
yusrib
 Post subject: RE: Salah Sedekah PostPosted: Mar 15, 2010 - 11:17 AM
Member Aktif III


Joined: 08-12-05
Posts: 103

assalamu'alaikum wr wb, af1 sebelumny artikel antm/anti ana pindahin ya, soalnya tidak sesuai dengan tempatnya
 
 View user's profile Send private message Send e-mail Yahoo Messenger ICQ Number 
Reply with quote Back to top
Display posts from previous:     
Jump to:  
All times are GMT + 7 Hours
Post new topic   Reply to topic
View previous topic Printable version Log in to check your private messages View next topic
Powered by PNphpBB2 © 2003-2004 The PNphpBB Group
Credits



Hudzaifah.org
Tampilan terbaik pada resolusi 1024 x 768
You can log-in or register for a user account here.

Hudzaifah.org, since January 2003 - about - contact - powered by Postnuke
Tidak dilarang menyebarluaskan artikel2 di situs ini dengan menyebutkan sumbernya