"Syarat Jadi Gubernur"
Opini dan Aspirasi / Politik dan Hub Internasional
Posted by asri on Nov 08, 2006 - 07:38 PM
|
Hudzaifah.org - Ketika itu saya menonton berita di TV kira-kira pukul 5 sore. Kebetulan berita yang di angkat adalah pembangunan HCB (Harmoni Central Busway). Pembaca berita mengatakan bahwa sempat terjadi gangguan kecil pada saat pembangunan halte bus terbesar di Jakarta itu, pasalnya pohon beringin besar yang berada tidak jauh dari halte tersebut tidak dapat ditumbang. Sudah 2 orang yang mencoba menebang pohon, namun tidak berhasil, malah 2 orang penebang itu dikabarkan sakit setelah mencoba menebang pohon. Saya tersenyum, Kok ada ya... hari gini masih percaya ada pohon-pohon angker? Di Jakarta pula!....Aneh!
Hudzaifah.org - Ketika itu saya menonton berita di TV kira-kira pukul 5 sore. Kebetulan berita yang di angkat adalah pembangunan HCB (Harmoni Central Busway). Pembaca berita mengatakan bahwa sempat terjadi gangguan kecil pada saat pembangunan halte bus terbesar di Jakarta itu, pasalnya pohon beringin besar yang berada tidak jauh dari halte tersebut tidak dapat ditumbang. Sudah 2 orang yang mencoba menebang pohon, namun tidak berhasil, malah 2 orang penebang itu dikabarkan sakit setelah mencoba menebang pohon. Saya tersenyum, "Kok ada ya... hari gini masih percaya ada pohon-pohon angker? Di Jakarta pula!....Aneh!"
Keesokannya saya kembali tersenyum, saya melihat tulisan di sebuah majalah yang berjudul ”Gubernur Bebas Syirik”. Di tulisan tersebut di katakan issue mengenai pohon itu semakin parah, malah dikabarkan sudah 4 orang yang meninggal setelah mencoba menebang pohon. Cerita klenik pun mempengaruhi Pemprov DKI untuk mengeluarkan keputusan untuk tidak menebang pohon ”kramat” itu diantara 600 pohon lain yang di tebang untuk proyek busway. Tidak menerima berita yang berisi kemusyrikan, 2 orang pemuda dari DPW Pemuda Persatuan Islam (Persis) pun mencoba untuk menebang pohon tersebut. Pohon beringin yang cukup lebar diameternya itu sebenarnya tidak bisa di tebang dengan menggunakan peralatan sederhana, maklum disamping batangnya yang cukup keras, umtuk memeluknya pun di butuhkan 7 orang dewasa. Artinya harus ada peralatan gergaji listrik yang biasa di pakai untuk menebang pohon-pohon besar. Karena 2 orang pemuda ini hanya punya gergaji biasa, maka di putuskan hanya menggunduli ranting-ranting nya saja. Wal hasil pohon "kramat" itu terlihat gundul (pantas saja saya pernah lewat harmoni dan mendapati pohon itu sudah terlihat gundul! :-) ).
Setelah pohon berhasil di gunduli, toh 2 orang pemuda itu tidak meninggal bahkan tetap sehat walafiat. Namun, pembuktian bahwa pohon itu tidak ”kramat”, ternyata tidak disambut dengan gembira oleh pihak Pemprov DKI, bahkan Gubernur DKI sutiyoso melaporkan kasus penebangan ke Polda Metro Jaya. Alasannya semua pohon yang ada di DKI harus dilidungi (lha....pohon yang 600 lainnya kok gak di lindungi ya Pak??)
Agaknya persyaratan untuk gubernur yang akan datang harus ditambah 1 point lagi yaitu HARUS BEBAS DARI SYIRIK....
Sumber: Majalah Sabili No.8 th. XIV 2 November 2006 dan Berita Reportase Trans TV.
|
This article is from Hudzaifah.org
http://hudzaifah.org/
The URL for this story is:
http://hudzaifah.org/modules.php?op=modload&name=News&file=article&sid=420
|
|