Perang informasi. Itulah kesimpulan kita saat membandingkan berbagai informasi seputar perang teluk III di Irak, baik dari media massa cetak maupun elektronik. Hal ini erat kaitannya dengan mentalitas yang hendak ditanamkan oleh masing-masing kubu kepada pasukannya, melalui perang informasi ini. Targetnya, mentalitas lawan akan jatuh.
Ketika awal mula pasukan AS menginjakkan kakinya di kawasan Alfao, Nashiriyah dan kota-kota kecil lainnya, AS lalu mengklaim telah menguasai kota-kota tersebut. Lalu tidak berapa lama, media massa di Timur Tengah banyak yang memuat bagaimana perjuangan umat Islam Irak di kota-kota kecil tersebut melawan pasukan koalisi AS-Inggris. Begitu pula ketika ada kejadian-kejadian yang menyebabkan korban berjatuhan, masing-masing kubu memiliki versi lain dalam pemberitaan.
Semenjak dahulu, usaha menjatuhkan mentalitas lawan selalu digunakan oleh pahlawan-pahlawan kita. Khalid bin Walid, dalam sebuah peperangan pernah memerintahkan pasukan berkuda umat Islam agar berputar-putar mengitari pasukan kaum muslimin. Sehingga asap debu pun membumbung tinggi dari segala penjuru. Ketika lawan melihat hal tersebut, mereka akan berkesimpulan bahwa pasukan umat Islam sedemikian banyaknya, sehingga mentalitas mereka pun jatuh sebelum berperang. Padahal pasukan kaum muslimin saat itu hanya sedikit.
‘Ikrimah bin Abu Jahal dalam perang Yarmuk berani menerjang pasukan lawan bersama 400 kaum muslimin. Berjuang mati-matian atas nama "baiat untuk mati" sebelum pasukan umat Islam lainnya maju, sehingga mereka pun mati semua. Akan tetapi perjuangan tersebut melemahkan mental musuh. Sehingga jalan menuju kemenangan menjadi terbuka.
Agaknya usaha seperti inilah yang kemudian dipraktekkan oleh berbagai kalangan umat Islam di seluruh dunia saat ini. Mentalitas itu mereka berikan melalui demo-demo atau artikel-artikel atau sarana-sarana lainnya untuk memperkuat perjuangan saudara-saudara mereka di negeri kaya minyak kedua ini. Pengiriman sukarelawan-sukarelawan perang dari bermacam-macam negara Arab juga terus bertambah. Jumlah mereka telah mencapai ratusan ribu lebih. Sukarelawan Mesir telah mencapai 10.400 orang. Dari Aljazair, ada puluhan pemuda yang telah menyeberang lautan Mediterania, melalui Suria menuju ke Irak. Telah ditemukan pula kamp-kamp khusus milik warga Libanon di Irak. Mereka siap membantu warga Irak melawan AS. Bahkan dalam beberapa hari ini, warga Yordania yang bergabung dengan kaum muslimin lainnya di Irak telah melejit sampai ratusan ribu. Bukan untuk Saddam mereka berduyun-duyun ke negeri 1001 malam. Tapi untuk membela saudara-saudaranya, kaum muslimin di Irak.
‘Amr Khalid, salah seorang tokoh spiritual di Mesir tidak ketinggalan pula menghimbau warga Mesir agar secara bersamaan menelepon warga Irak dengan nomor acak, untuk mengokohkan mental mereka menghadapi serangan pasukan koalisi. Belum lagi para elit politik yang berusaha menenangkan warga Irak dengan berbagai macam cara. Syekh Yasin sendiri—tokoh spiritual rakyat Palestina—bersama Dr. Abdul Aziz ar Ranteesy merasa perlu untuk menghubungi Saddam, agar segera mempersiapkan pasukan istisyhâdiyyûn (sukarelawan yang siap mati syahid), mengingat kekuatan lawan yang tidak berimbang. (Afaq Arabia, edisi 3/4/03). Mereka semua memiliki satu kata, menolak agresi zalim dan keangkaramurkaan Amerika di Irak.
Amerika Penjahat Perang Internasional
Sudah tidak terhitung jumlahnya kejahatan-kejahatan Amerika—yang diboncengi oleh Yahudi—di muka bumi ini. Semuanya dilakukan untuk mencapai kepentingan-kepentingannya, baik secara politik, ekonomi dan budaya. Di antaranya:
1. Tahun 1945, bom atom AS dijatuhkan di kota Hiroshima dan Nagasaki, Jepang
2. Ketika Korea Utara dan Korea Selatan berperang (1949), Amerika turut campur untuk merealisasikan kepentingan-kepentingannya.
3. Pada tahun 1953, Amerika mengintervensi Iran, sehingga kudeta pun berhasil dilakukan oleh Syah Pahlevi yang loyal terhadap AS.
4. Tahun 1955, perang budaya Amerika mulai merambah ke Eropa, melalui perfilman.
5. Krisis di Kuba terjadi setelah Amerika menemukan rudal-rudal milik Uni Soviet di sana (1962), sehingga embargo pun diberikan AS kepada Kuba.
6. Tahun 1968, Vietnam berperang melawan Amerika yang menguasai kawasan selatan Vietnam. Dalam perang ini, AS mengalami kerugian amat besar. 550 ribu pasukannya tewas.
7. Perang Iran-Irak (1980) tidak terlepas dari provokasi Amerika yang sengaja mengobarkan api kebencian kepada keduanya, agar saling berperang.
8. Tahun 1986 Amerika membom wilayah Libya dengan dalih Libya mendukung gerakan teroris.
9. Tahun 1991 terjadi operasi badai gurun yang fenomena luarnya memang untuk mengusir tentara Irak. Tapi dibalik itu ternyata pengaruhnya amat luar biasa untuk kepentingan Amerika saat ini. Amerika mendapatkan legalitas dalam menempatkan pasukannya di Kuwait. Sehingga bisa mengawasi Irak dan negara-negara Arab lainnya.
10. Tahun 1995 Amerika memiliki peranan besar dalam menciptakan konflik di Yugoslavia sampai ditandatanganinya perjanjian Dayton.
Lalu silsilah hitam Amerika ini berlanjut di Afghanistan yang dituduh sebagai negara yang memelihara teroris Bin Laden (2002). Dengan alasan memerangi teroris ini pula banyak tokoh-tokoh politik maupun agama di berbagai negara muslim yang ditangkap, atas desakan AS. Belum lagi sirna kegelisahan kaum muslimin, Irak pun menjadi giliran selanjutnya. Negara yang mengaku polisi dunia itu memvonis Irak dengan tuduhan macam-macam, sehingga semakin tampak kebohongannya. Pada mulanya dengan dalih melucuti senjata pemusnah milik Irak. Lalu memerangi teroris, kadang juga katanya hendak menerapkan demokrasi di Irak, dan sebagainya. (Afaq Arabia, edisi 3/4/03).
Lalu pertanyaannya, bagaimana mungkin demokrasi sebuah negara diterapkan jika pelaksanaannya diintervensi dan ditekan oleh negara luar? Apalagi negara luar ini telah mengakui sendiri, setelah perang, militernya akan tetap dipertahankan di Irak. ''Kami akan bekerjasama dengan PBB pasca perang Irak, namun kami tetap mendominasi dengan mempertahankan tentara kami di Irak,'' ujar Menlu AS, Colin Powell dalam pertemuannya dengan Uni Eropa di Brussel. (Republika, 4/4/03). Wajar jika Perancis—yang menolak perang—lalu menuduh AS hendak menaklukkan, menjajah dan mengeksploitasi kekayaan Irak.
Silsilah kejahatan perang AS tersebut sepertinya semakin menggugah kaum muslimin untuk semakin menggalang kekuatan melawan keangkaramurkaan Amerika. Terbukti dari aksi-aksi mereka yang semakin berani, meskipun negara-negara mereka masih didikte, diancam, dipengaruhi atau dipecah-belah oleh lawan. Mereka hendak menunjukkan kepada dunia, bahwa umat Islam mampu menolong saudara-saudaranya di Irak, dengan berbagai macam sarana. Amerika selamanya tidak pernah menancapkan kukunya di sebuah kawasan, kecuali hendak mengeruk kekayaannya, sebagaimana bukti-bukti nyata di atas.
Strategi Perang Irak dan Amerika
Jauh-jauh hari Saddam telah memiliki rencana cemerlang dalam menghadapi perang Teluk III. Puluhan tahun Irak telah berperang, sehingga cukup berpengalaman menghadapi musuh-musuhnya, beserta strategi dan karakter-karakter militernya. Irak mempersenjatai rakyatnya yang mampu dan berpengalaman dalam berperang untuk ikut serta membantu menyerang Amerika. Mereka ditempatkan di wilayah-wilayah tertentu. Sementara tentara-tentara pilihan Saddam dikonsentrasikan di Baghdad, karena tujuan musuh pasti akan ke sana. "Perang kota" ini telah disiapkan Irak semenjak lama. Amerika tadinya memperkirakan kota ini cukup diembargo selama tiga hari, setelah itu jatuh ke tangan Amerika. Tapi ternyata sampai sekarang mereka cukup kewalahan menghadapi rakyat Irak yang dipersenjatai Saddam. Sampai hari ke-16, Amerika baru berada di dekat Baghdad, dengan jarak 10 kilometer-an. (Al Hayat, 4/4/03).
Menurut Mayjen Salahuddin Salim, mengalahkan pasukan penyerbu sangat sulit kecuali Irak berani melakukan taktik nontradisonal atau melakukan konfrontasi darat jarak dekat. Taktik nontradisional yang dimaksud adalah aksi istisyhâdiyah (mati syahid) yang bisa menimbulkan korban jiwa dan peralatan militer sangat besar di pihak musuh seperti yang pernah dilakukan pasukan Jepang. Sasarannya bisa kapal induk atau kerumunan pasukan darat musuh. Dalam hal ini Irak telah memiliki pasukan istisyhâdiyah sukarelawan maupun dari kalangan militer yang cukup banyak. Tinggal diperlukan manajemen dan pengelolaan yang baik.
Sedangkan konfrontasi jarak dekat mampu melumpuhkan keunggulan udara musuh, karena payung udara hampir tidak mungkin digunakan. Jika Irak mampu mengusahakan pertempuran yang ada menjadi konfrontasi jarak dekat, maka kemungkinan menang semakin besar. Cara-cara seperti ini telah diketahui oleh Saddam Hussein. (Republika, 4/4/03).
Sementara di sisi lain, strategi AS dari awal peperangan sampai sekarang, semakin tampak kedangkalannya. Informasi yang diberikan kepada pejabat pemerintahan gedung putih terbukti kurang detail. Sehingga pada awal-awal penyerangan, buru-buru mereka mengusulkan tambahan dana dan pasukan melalui kongres AS. Informasi terakhir (3/4/03) dari radio Shautul Arab Kairo, dana $ 80 milyar telah disetujui oleh kongres Amerika. Ketika diminta konfirmasinya, para pejabat Amerika menyalahkan pihak intelijen yang menginformasikan sesuatu yang salah, sehingga merugikan Amerika.
Selain itu, ketika mengadakan operasi, militer Amerika juga serampangan. Dua rudal Amerika pernah nyasar di Iran dan satu lagi di Turki. Itu menunjukkan kurang adanya persiapan lapangan yang baik. (Ahram Araby, 29/3/03).
Untuk menghadapi strategi perang kota ini, Amerika mengadakan pelatihan bersama Israel di Jenin. Israel telah memiliki pengalaman dalam menghadapi penduduk Palestina Wilayah Jenin. Wilayah Jenin dianggap mirip dengan kota Baghdad. Taktik itu sendiri berupa membelah jalan-jalan yang agak luas di wilayah-wilayah yang padat penduduk, dengan menggunakan buldoser-buldoser kuat yang biasa disebut dengan 'D9' dibawah kawalan tembakan bertubi-tubi dari heli-heli dan pesawat-pesawat tempur untuk membuka jalan bagi masuknya divisi infanteri ke kamp tersebut. (Eramoslem, 27/3/03).
Harapan yang Tak Pernah Pupus
Sebagian besar negara-negara wilayah kaum muslimin—terutama negara-negara Arab—mengambil sikap pasif terhadap permasalahan Irak. Bantuan-bantuan yang ada masih sebatas dana dan tim medis. Belum ada yang terang-terangan mengirimkan pasukan kecuali bersifat nonresmi, tanpa turut campur pemerintah. Indonesia sendiri telah mempersiapkan ribuan tenaga sukarelawan yang siap diterjunkan untuk membantu perjuangan umat Islam Irak. Di berbagai negara muslim juga semakin digalakkan pemboikotan produk-produk Amerika, Inggris dan Israel. Di Thailand, Filiphina, dan negara-negara Asia lainnya telah gencar isu pemboikotan ini, setelah sebelumnya dirintis oleh negara-negara muslim di Timur Tengah.
Yang lebih unik lagi, ternyata seruan boikot ini juga digalakkan oleh negara-negara nonmuslim seperti Perancis, Jerman, Rusia dan Swiss. Membuat kita semakin tergugah kembali untuk bersama-sama melawan kezaliman Amerika, Inggris, Spanyol, Israel dan negara-negara pendukungnya. (Republika, 27/3/03). Tidak ada kata takut akan terjadi perang dunia III, jika posisi kita benar.
Bagi umat Islam, masih banyak perjuangan yang bisa dilakukan untuk saudara-saudaranya di Irak. Demonstrasi, dukungan pers dan pena, pengiriman tim medis, doa, dan sejenisnya hanyalah sebagian dari bentuk perjuangan tersebut. Di saat para pejabat pemerintah tidak mampu berbuat banyak untuk kaum muslimin Irak, menjadi tanggung-jawab kaum muslimin semua untuk menopang perjuangan mereka.
Meskipun rencana Amerika seakan-akan besar baik dari segi finansial maupun pasukan, tapi pasukan Allah jauh lebih besar dari mereka. Semakin lama perjuangan umat Islam di lembah sungai Eufrat dan Tigris, semakin dekat pula kemenangan kita raih. Jika kemenangan tersebut tidak mampu kita raih, maka yakinlah bahwa kemenangan yang lebih besar lagi akan ada di depan kita. Sebagaimana perjanjian Hudaibiyah yang seakan-akan menjadi kemenangan bagi kaum kuffar, tapi ternyata Allah subhanahu wa ta’ala sebenarnya hendak menyempurnakan kemenangan umat Islam di muka bumi dan menghalau kaum kuffar dari wilayah umat Islam.
Wallâhu a‘lam bish shawâb.
Sumber: SINAI online - http://www.sinai.cjb.net [1]
Oleh: Ahmad Mifdlol Muthohar