Hudzaifah.org

Ilmu Yang Dianggap Remeh

Pernik / Fikrah & Harakah
Posted by al_ichsan on May 03, 2008 - 01:14 PM

Hudzaifah.org - Ketika saya mendengarkan kata “ilmu” yang pertama kali terbesit dalam benak saya adalah buku. Karena buku memang salah satu sumber ilmu terbesar. Lewat buku kita bisa memperoleh ilmu yang sangat banyak dan pengetahuan yang sangat luas. Jika membayangkan kondisi saya sekitar tujuh tahun yang lalu, saya akan mendapati diri saya dalam keadaan tidak mengenal buku. Satu-satunya buku yang mampu menarik perhatian saya adalah komik. Tidak bisa terbilang sedikit komik yang saya miliki pada saat itu. Mungkin hampir memenuhi satu lemari khusus buku yang saya miliki.

Hudzaifah.org - Ketika saya mendengarkan kata “ilmu” yang pertama kali terbesit dalam benak saya adalah buku. Karena buku memang salah satu sumber ilmu terbesar. Lewat buku kita bisa memperoleh ilmu yang sangat banyak dan pengetahuan yang sangat luas. Jika membayangkan kondisi saya sekitar tujuh tahun yang lalu, saya akan mendapati diri saya dalam keadaan tidak mengenal buku. Satu-satunya buku yang mampu menarik perhatian saya adalah komik. Tidak bisa terbilang sedikit komik yang saya miliki pada saat itu. Mungkin hampir memenuhi satu lemari khusus buku yang saya miliki.

Waktu itu saya berpikir bahwa buku hanyalah sarana untuk refreshing dan melepas kepenatan, jadi mengapa harus membaca buku-buku ilimiah yang berat dengan yang hanya akan menambah pikiran ini itu. Ketika masuk kuliah paradigma itu mulai bergeser sedikit demi sedikit namun tetap dalam satu koridor yang sama, “membaca untuk refreshing dan menenangkan pikiran”. Pada saat kuliah inilah saya mulai tertarik dengan buku biografi orang-orang terkenal. Saya berpendapat toh tidak jauh beda dengan buku cerita bukan? Hanya saja objek dalam buku ini real bukan fiksi seperti di komik.

Singkat cerita perlahan paradigma baru terbentuk meninggalkan paradigma lama dan koridornya juga lumayan bergeser dan bertambah dari sekedar untuk refreshing menjadi refreshing dalam artian yang lebih dalam. Banyak buku-buku Islam dan pergerakan yang saya lahap mulai dari Risalah Pergerakan 1 dan 2, Memoar Hasan Al Banna, Perangkat-Perangkat Tarbiyah, Manajemen Da’wah Kampus, dan berbagai macam buku-buku “aktivis” lainnya. Pada saat itu saya menganggap buku-buku tersebut sangat peting dalam mendukung pemahaman dan aktivitas saya sebagai aktivis da’wah kampus. Buku-buku tersebut menurut saya cukup membakar semangat dan melahirkan motivasi-motivasi baru dalam bergerak. Tak pelak bila ada buku-buku pergerakan dan Islam yang baru terbit langsung akan saya cari ke toko buku.

Tak terasa saya lebih menikmati buku-buku tersebut dibandingkan buku-buku ilmiah lainnya atau bahkan buku-buku kuliah sekalipun. Pandangan saya terhadap buku-buku ini sangat luar biasa. Sering bila mendapat kesempatan mengisi materi di suatu tempat saya menjadikan buku-buku tersebut sebagai rujukan utama.

Pada pertengahan tahun 2005 ada sebuah kejadian yang membuat mata saya terbuka. Pada saat itu keinginan saya untuk menuntut ilmu Islam sangat besar, maka dari itu saya ikut serta dalam kegiatan rutin di suatu ma’had. Di ma’had tersebut saya bertemu dengan seorang ustadz yang kegiatan dan aktifitasnya di dunia pergerakan dan Islam tidak diragukan lagi. Dia mengajar saya di salah satu kelas di ma’had tersebut. Sering kali diluar pelajaran pun kami sering berdiskusi.

Sampai pada suatu hari dia menguji pengetahun para muridnya dengan bertanya secara lisan. Beliau bertanya banyak hal mengenai hal-hal yang sangat dasar dan sebenarnya mudah untuk di jawab. Waktu itu beliau bertanya kepada saya mengenai rukun iman dan rukun Islam. Hasilnya sungguh mengejutkan jawaban saya ada yang terbolak-balik. Lalu dia bertanya tentang fiqh thaharah, dan ternyata jawaban saya tidak benar 100%. Dia juga bertanya tentang beberapa hadits yang seharusnya sangat mudah untuk dijawab. Dan masih banyak pertanyaan-pertanyaan tentang ilmu fiqh dan syariah yang dilontarkan kepada saya namun hanya beberapa yang bisa saya jawab secara sempurna. Padahal pertanyaan tersebut sering kita alami sehari-hari.

Setelah sesi kelas tersebut ustadz tersebut memanggil saya dan berkata dengan nada sedikit menegur. “Pengetahun antum tentang pergerakan sudah baik, namun antum lupa dasar dan penyokong dari ilmu-ilmu tersebut. Sebelum itu ada ilmu-ilmu yang sudah seharusnya dipelajari sebagai pondasi yang kuat untuk berda’wah. Antara lain adalah pengetahuan tentang ilmu fiqh, syariah, dan ilmu-ilmu lain yang berkaitan dengan akidah.”

Teguran ustadz tersebut masih jelas tergambar di benak saya sampai sekarang. Ternyata selama ini saya dan bahkan mungkin teman-teman semua hanya membaca dan berusaha menambah ilmu untuk menghiasi semangat dan ghiroh saja. Namun ternyata melupakan ilmu yang merupakan dasar dan pondasinya. Tanpa ilmu tentang akidah, syariah, dan fiqh, semua ilmu lainnya akan rapuh di dalam walau terlihat kuat dan kokoh dari luar. Ilmu yang dimiliki adalah merupakan cerminan kualitas diri. Tentu kita tidak mau dianggap kuat bersemangat dari tampilan namun rapuh di dalam bukan?

Mengutip sedikit perkataan Ibnu Hajar dalam kitab Fathul Baari Syarah Shahih Bukhari 1/40. Beliau (Ibnu Hajar) berkata : “Ini (QS thaha : 114) dalil yang sangat jelas tentang keutamaan ilmu, karena Allah tidak pernah menyuruh Nabi-Nya Shalallahu’alaihi wasallam untuk meminta tambahan kecuali tambahan ilmu. Maksud ilmu tersebut adalah ilmu syar’i, yang berfaedah memberi pengetahuan apa yang wajib atas setiap mukallaf (muslim dan muslimah yang baligh) tentang perkara agama,ibadah dan muamalahnya. Ilmu mempelajari tentang Allah dan sifat-sifatnya dan apa yang wajib dia lakukan dari perintah-Nya serta mensucikannya dari sifat-sifatnya dan apa yang tercela. Poros dari semua itu adalah ilmu tafsir, ilmu Hadits dan ilmu Fiqh”.

Dari perkataan Ibnu Hajar tersebut bisa ditarik garis besar tentang pentingnya mempelajari Ilmu tafsir, ilmu hadits, dan ilmu fiqh. Dan bila ditarik benang merahnya Ilmu-ilmu tersebut adalah pondasi utama dari pengetahuan-pengetahuan tentang ilmu pergerakan dan sekitarnya.

Terakhir ada fenomena lain yang mendasari para aktivis da’wah hanya cenderung mempelajari buku-buku pergerakan. Yaitu ingin berkiprah dan dianggap tau benar tentang dunia pergerakan. Ingin terlihat sebagai aktifis tulen namun akhirnya hanya terpakai untuk hiasan luar belaka. Na’udzubillahi mindzalik. Dari fenomena ini bisa dilihat ternyata menuntut ilmu sangat mungkin sekali dihiasi dengan bumbu-bumbu riya yang terjangkit dalam hati. Coba lihat lagi ke dalam relung hati kita, apa motivasi kita berda’wah hari ini. Sudahkah ilmu-ilmu yang utama kita pelajari hari ini? Wallohu'alam bishowab. (DAI)

This article is from Hudzaifah.org
  http://hudzaifah.org/

The URL for this story is:
  http://hudzaifah.org/modules.php?op=modload&name=News&file=article&sid=561