Hudzaifah.org - Mahasiswa kuliah, tentunya untuk mencari ilmu. Tugas dosen adalah untuk mendidik para mahasiswa. Dosen yang berkualitas adalah dosen yang senantiasa mentransfer ilmunya dan mengikat jalinan dengan mahasiswanya. Sebagai dosen, kualitas IQ mungkin tak perlu dipertanyakan lagi. Namun EQ, terlebih SQ, tak semua dosen bisa memilikinya. Mengajar Plus. Plus akhlak, plus wawasan lebih.
Hudzaifah.org - Mahasiswa kuliah, tentunya untuk mencari ilmu. Tugas dosen adalah untuk mendidik para mahasiswa. Dosen yang berkualitas adalah dosen yang senantiasa mentransfer ilmunya dan mengikat jalinan dengan mahasiswanya.
Sebagai dosen, kualitas IQ mungkin tak perlu dipertanyakan lagi. Namun EQ, terlebih SQ, tak semua dosen bisa memilikinya. Mengajar Plus. Plus akhlak, plus wawasan lebih.
Sebagaimana beragamnya tipe manusia, tipe dosen pun, tentu beragam. Saya kelompokkan 3 tipe dosen berdasarkan pengamatan saya pribadi, yaitu dosen berakhlak rendah, dosen pertengahan, dan dosen berkualitas.
1. Dosen Berakhlak Rendah
Saya ingin memberi contoh, dosen-dosen yang berakhlak di bawah standar. Saya pernah punya pengalaman, ada dosen yang gemar marah-marah dan berteriak-teriak di depan kelas? Menggebrak-gebrak meja. Sampai-sampai seisi kelas, termasuk mahasiswanya, takut. Saya jadi mempertanyakan EQ dosen tersebut.
Atau ada pula dosen yang tidak berakhlak lidahnya dengan mengeluarkan kata-kata kotor kepada mahasiswanya, seperti , (maaf..) ” bodoh, goblog, tolol”. Membuat susana kelas menjadi tegang. Tapi alhamdulllah sih, saya tidak pernah kena :P . Tapi walau begitu, menjadi penilaian tersendiri dari sisi mahasiswa kepada dosen.
Ada pula dosen pembimbing yang perokok, padahal ia wanita. Sering sengaja mengingkari janji saat jadwal pertemuan bimbingan. Suka membentak-bentak mahasiswa dan mengajari cara berbuat curang.
Ada pula kisah tentang dosen yang terkenal killer. Teman saya sampai gemetar tangannya karena sangat takutnya pada dosen tersebut. Suasana benar-benar horror bagi teman-teman saya di kelas itu karena bentakan, umpatan kasar dan bahkan kapur, atau penghapus papan tulis, bisa dilayangkan ke mahasiswa.
Ada pula dosen yang porno. Dosen ini sering mengajar dengan memberi ilustrasi porno. Menurut dosen tersebut, dengan ilustrasi-ilustrasi porno, diharapkan mahasiswa akan lekas ingat materi kuliah. Bahkan ia bercerita, suka pergi ke bar dan melihat wanita cantik. Isterinya sendiri pun sering ia bicarakan kejelekannya di depan kelas! Wow.. Pak dosen... :(
Ada pula dosen yang berbeda agama dengan saya, yang gemar membawa-bawa masalah SARA di depan kelas. Bahkan pertama kali saya masuk kampus dalam masa ospek, saya sudah ”disambut” oleh dosen yang berbeda agama. Sebagai satu-satuya mahasiswi yang berjilbab, saya selalu dihujani pertanyaan-pertanyaan olehnya yang tidak ada sangkut pautnya dengan mata kuliah. Sampai-sampai nama saya melambung karena sering dipanggilnya untuk mejawab pernyataan dan pertanyaannya. Diantaranya tentang Palestina, dosen saya berkata bahwa mereka itu teroris. Suasana kelas menjadi tegang. Saya atur emosi dan mencoba menjawabnya dengan santai, untuk mencairkan suasana kelas. Akhirnya semua teman-teman seisi kelas justru menertawakan pertanyaan dosen yang tidak pada tempatnya itu.
Pun, ada yang mengajarkan liberalisme di depan kelas atau dakwah agama. Bahkan ada dosen yang membawa-bawa 10 Perintah Musa di kelas, padahal mata kuliah yang sedang diajarkan, adalah mata kuliah Manajemen Bisnis. Sama sekali tidak ada sangkut pautnya, bukan?
Ada dosen yang mau disogok? Untuk ini, saya belum pernah mengalami langsung, tetapi hanya pernah mendengar saja, baik dari teman saya sendiri ataupun dari dosen yang lain yang mengatakan bahwa bila ada dosen yang minta sogokan segera laporkan karena pernah ada kasus berupa sogok menyogok antara mahasiswa dan dosen.
2. Dosen Pertengahan
Dosen tipe ini, tidak killer, tetapi juga tidak bisa dikatakan berkualitas. Benar-benar pertengahan. Mengajar tanpa ruh. Tugasnya hanya menyampaikan ilmu saja. Mengajar tanpa metode tertentu yang dirasa efektif dan efisien. Datang ke kelas, mengajar... dan pergi. Begitulah setiap pertemuan kuliah.
3. Dosen Berkualitas
Tetapi tentu tidak semua dosen berakhlak rendah. Banyak pula yang berkualitas. Ada dosen yang mengajar sambil mengajarkan akhlak kepada para mahasiswa/i. Ia juga sering memuji orang yang berjilbab karena kata beliau, terlihat lebih sopan. Saya yang selalu duduk paling depan saat beliau mengajar, dan satu-satunya mahasisiwi yang berjilbab di kelas itu, jadi mendapat angin segar nih... :) .
Ada pula dosen yang mendukung gerakan tidak menyontek. Bahkan ketika quiz, setiap mahasiswa/i harus duduk sendiri-sendiri. Soal pun dibuat tipe A dan B. Hal ini memberi energi yang positif pada saya karena saya sangat suka tipe-tipe dosen seperti ini nih, sehingga membuat saya tambah semangat belajar. Untuk dosen tipe ini, alhamdulillah saya mendapat nilai A untuk mata kuliahnya :) . Nah, kan, bpk/ibu dosen yang seperti ini justru dapat meningkatkan semangat belajar dan kualitas mahasiswa.
Ada pula dosen yang memberi motivasi kepada mahasiswanya. ”Bagaimana skripsinya? Jangan menyerah ya”, ujarnya. Meski ia bukan dosen pembimbing saya, tetapi ia memberikan supportnya. Serasa air sejuk yang menyegarkan di tengah kegersangan padang pasir. Untuk yang sedang skripsi, semangat ya :).
Ada pula dosen yang bersedia membantu mahasiswanya meski di rumah sekalipun. Memberi waktu ekstra. Ketika mengajarpun, selalu dengan senyuman.
Pun, ada dosen yang meski berbeda agama dengan saya, tetapi ibu dosen ini berakhlak baik dan murah senyum. Ia mengajar dengan caranya sendiri dan berusaha agar mahasiswa tidak sekedar hafal tetapi lebih dari itu, paham. Ia tidak pernah memandang jilbab lebar saya. Bahkan beliau sering meminta saya untuk berbicara in english atau mentranslate buku english ketika berdiskusi tentang mata kuliah terebut. Ketika bertemu di jalanpun, ia sering menyapa dan masih ingat nama saya, meski sudah lama tak menjadi dosen saya :) . Sampai sekarang, kami masih keep in touch via Facebook.com.
Penutup
Untuk para dosen yang berakhlak baik dan memang mencurahkan perhatiannya demi perbaikan intelektual dan moral mahasiswa, saya salut dan mengucapkan terima kasih. Untuk para dosen yang kurang baik akhlaknya, mudah-mudahan segera memperbaiki diri. Untuk apa menjadi dosen killer? Bukankah setiap kata dan tindakan akan dimintai pertanggung jawaban di hari akhir nanti? Tidak perlu killer, karena dosen yang murah senyum dan jujur, justru membuat mahasiswa bisa belajar dengan baik, dan endingnya adalah transfer ilmu yang menyenangkan dan berkualitas.
Saya menyarankan, dalam penerimaan dosen, sebaiknya bukan hanya intelektualnya saja yang di tes, tetapi juga akhlaknya, emosionalnya dan psikologinya. Di luar negeri, dosen-dosen sudah seperti itu, bahwa bukan dosen yang menilai mahasiswa, tapi mahasiswa yang menilai dosen karena mahasiswa diposisikan sebagai konsumen yang harus diberi service terbaik.
Semoga tulisan sederhana ini bisa menyadarkan kita semua. Bagi yang mempunyai rekan atau saudara yang berprofesi pengajar, khususnya dosen, bisa menyampaikan tulisan ini kepada mereka. Di dunia ini memang selalu ada dua., yang baik dan yang buruk. Kalau bertemu yang baik, kita bersyukur.. Kalau bertemu yang buruk, bersabarlah, badai pasti berlalu. Justu yang buruk-buruk ini, dapat menjadi bahan sparring kita menghadapi dunia yang memang tidak selamanya indah. Ya, khan :) . Tulisan selanjutnya, bisa dilanjutkan dengan judul ”Tipe-Tipe Mahasiswa” :) . [anw]
|