Review Talkshow Muslimah

Cinta adalah anugerah. Semua pasti pernah merasakan indahnya cinta.. Cinta bisa ditujukan kpd siapa saja, bisa kpd Allah swt sang Pencipta seluruh jagat raya, Rasulullah saw, malaikat Allah, pasangan kita (yg sudah More »

MENJAGA SUNNAH PENTAHAPAN (MARHALAH) DALAM DA’WAH

DALAM melakukan pengambilan tindakan yang  mudah  juga  sangat dianjurkan  untuk  menjaga  sunnah  pentahapan dalam melakukan da’wah,  sebagaimana  yang  berlaku  dalam  sunnatullah   pada makhluk-Nya  dan  pada  perintah-Nya; dan juga yang berlaku di dalam More »

MENGUBAH FATWA KARENA PERUBAHAN WAKTU DAN TEMPAT

PENGAMBILAN tindakan yang  mudah  juga  dianjurkan  dalam  hal berikut  ini. Pentingnya pengetahuan tentang perubahan kondisi manusia,  baik   yang   terjadi   karena   perjalanan   waktu, perkembangan   masyarakat,   maupun  terjadinya  hal-hal  yang sifatnya  darurat,  sehingga  para  More »

Seminar Motivasi dengan tema “The Power of The Youth” (Kekuatan Pemuda)

Assalamu ‘alaikum, yo ayo mana suaranya yang berjiwa muda? Taukah kalian? Muhammad Al-Fatih, menaklukan Konstantinopel di umurnya yang ke 19 tahun. Lalu, Al – Khawarizmi, sang founder father matematika dasar dan penemu More »

 

MAKRUH

MAKRUH

BAGIAN paling rendah dalam rangkaian perkara-perkara yang dilarang adalah perkara makruh; yaitu makruh tanzihi. Sebagaimana diketahui, makruh ini ada dua macam; makruh tahrimi dan makruh tanzihi. Makruh tahrimi ialah perkara makruh yang lebih dekat kepada haram; sedangkan makruh tanzihi ialah yang lebih dekat kepada halal. Dan itulah yang dimaksudkan dengan istilah makruh pada umumnya.

Banyak sekali contoh yang kita kenal dalam perkara ini. Barangsiapa yang pernah membaca buku Riyadh as-Shalihin, yang ditulis oleh Imam Nawawi, maka dia akan dapat menemukan berbagai contoh tentang perkara yang makruh ini. Seperti makruhnya orang yang makan sambil bersandar, minum dari bawah bejana air, meniup minuman, beristinja’ dengan tangan kanan, memegang farji dengan tangan kanan tanpa adanya uzur, berjalan dengan satu sandal, bertengkar di masjid dan mengangkat suara di dalamnya, berbisik di masjid pada hari Jumat ketika imam sedang berkhotbah, membesar-besarkan suara ketika berbicara, mengucapkan doa, “Ya Allah ampunilah dosaku kalau engkau mau.” “Kalau Allah dan Fulan menghendaki”, berbincang-bincang setelah makan malam yang paling akhir, shalat ketika makanan sudah dihidangkan, mengkhususkan hari Jumat untuk berpuasa, atau untuk melakukan Qiyamul Lail.

Perkara yang makruh –sebagaimana didefinisikan oleh para ulama– ialah perkara yang apabila ditinggalkan kita mendapatkan pahala, dan apabila dikerjakan tidak mendapatkan dosa.

Oleh karena itu, tidak ada siksa bagi orang yang melakukan perkara yang dianggap makruh tanzihi. Hanya saja, ia akan dikecam apabila melakukan sesuatu yang pantas mendapatkan kecaman apalagi jika ia melakukannya berulang-ulang.

Akan tetapi, kita tidak perlu menganggap mungkar tindakan semacan ini (makruh tanzihi); agar mereka tidak terjebak dalam kesibukan memerangi hal-hal yang makruh padahal di saat yang sama mereka sedang melakukan hal-hal yang jelas diharamkan oleh agama.

Sumber: Fikih Prioritas – Yusuf Qardhawi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>